renovasibangunan99.blogspot.com
Kabar Gembira Buat kamu yang ga sengaja kunjungi Blog ini !!!
jarang-jarang kamu bisa nemuin Harga SOUVENIR se Murahini..
karena ini kami buat sengaja buat kamu yang ga sengaja berkunjung ke Blog kami dengan ulasan kami selain dari ulasan souvenir ☺️☺️☺️☺️
Nah buat kamu yang tertarik dengan Harga-harga souvenir kami, bisa langsung hubungi whatsapp kami di 081296650889 atau 081382658900
caranya screenshoot atau sertakan link url souvenir yang kamu minati pada blog ini, kirimkan kepada kami di nomer yang sudah tertera dia atas↑↑
tanpa screenshoot atau link blog kami, kemungkinan kami akan memberikan harga jual yang ada pada toko kami yang cenderung lebih tinggi tentunya
Tampilkan postingan dengan label Cerpen. Tampilkan semua postingan
Tampilkan postingan dengan label Cerpen. Tampilkan semua postingan
Jumat, 29 Maret 2019
Cerpen Cinta Mengharukan "Air Mata Cinta" -- Cerita Cinta Mengharukan "Air Mata Cinta", Kisah Cinta Mengharukan "Air Mata Cinta", Cerita Cinta Mengharukan dan Bikin Nangis "Air Mata Cinta", Cerita Cinta Pendek Sedih "Air Mata Cinta", Cerita Cinta Menyentuh Hati "Air Mata Cinta".
Kali ini admin akan mengembangkan info tentang Cerpen Cinta Mengharukan "Air Mata Cinta". Cerpen ini ditujukan khususnya untuk para dewasa dan umumnya siapa saja yang ingin membacanya. Mari simak dongeng selengkapnya berikut ini.
Dalam kehidupan kita, aneka macam kisah-kisah yang pernah dilalui oleh seseorang. Kisah-kisah tersebut dapat diulas kembali dalam sebuat dongeng pendek atau yang disebut dengan cerpen. Salah satu tujuannya yakni untuk menunjukkan pengalaman atau pesan watak yang baik untuk para pembacanya.
Berikut ini admin sajikan sebuah Cerpen Cinta Mengharukan "Air Mata Cinta" yang menunjukkan pesan watak yang baik. Silahkan baca dari awal hingga akhir.
--------------------------------------------------------------------------------------------------------------------------
Pada suatu sore, sepasang cowok dan pemudi sedang telponan. Mereka membicarakan rencana nanti malam untuk jalan-jalan.
Cowok : Assalamualaikum Sayang, apa kabar?
Cewek : Walaikum salam. Alhamdulillah baik-baik saja. Kamu apa kabar juga?
Cowok : Alhamdulillah baik-baik saja. Lagi ngapain nih?
Cewek : Ini gres saja masak. Kamu sendiri lagi ngapain?
Cowok : Aku gres saja nyuci motor. Maaf ya sayang kemaren-kemaren saya gak ngubungi kau alasannya saya sibuk banget dengan pekerjaanku.
Cewek : Iya gak papa kok. Asalkan gak macam-macam disana. Emang mau kemana kok tumben motornya di cuci?
Cowok : Biasa lah, ini kan malam minggu. Apa kau gak ingat kebiasaan kita malam minggu?
Cewek : Oh iya ya, biasanya kita jalan-jalan kalau malam minggu. Aku hingga lupa, soalnya kau udah usang gak ngajak saya jalan-jalan lagi. Emang kita mau jalan kemana?
Cowok : Entar malam kau niscaya tahu.
Cewek : Kasih tau dong.. ?
Cowok : Entar malam aja dech.
Cewek : Oke lah kalau begitu, saya juga mau ngomong sesuatu sama kau nanti malam
Cowok : Mau ngomong apa?
Cewek : Entar malam kita omongin
Cowok : Baik lah, entar malam kita jalan-jalan sambil ngomongin ini ya. Sayang, udah mau maghrib nih, kita cukupkan dulu ya telponannya. Assalamualaikum
Cewek : Walaikum salam
Mereka berdua mengakhiri telponan untuk sore itu. Kemudian pada malam harinya sekitar jam 8 si cowok tiba ke rumah cewek untuk mengajaknya pergi jalan-jalan.
Cowok : tok tok tok (si cowok mengetuk pintu). .. Assalamualaikum
Cewek : Walaikum salam, tunggu sebentar ya
Cowok : Iya
Si cewek membuka pintu
Cewek : Silahkan masuk dan duduk
Si Cowok kemudian masuk dan duduk di kursi
Cowok : Kok sepi, kemana orang bau tanah mu?
Cewek : Ada tuh di ruang keluarga lagi nonton TV
Cowok : Aku mau minta ijin dulu pada mereka untuk mengajakmu jalan-jalan
Cewek : Temui aja mereka di ruang keluarga
Cowok : Baik, saya kesana dulu
Si Cowok berjalan ke ruang keluarga untuk menemui orang bau tanah si cewek
Cowok : Ayah Ibu, apa kabar? lagi nonton TV ya.
Orang bau tanah : Iya, kabar baik. Apa kabar kau sudah usang gak kesini?
Cowok : Alhamdulillah baik. Iya saya udah usang gak kesini alasannya kemaren-kemaren sibuk banget dengan pekerjaanku. Begini Yah, saya minta ijin mau ngajak jalan-jalan Sinta (nama si cewek) di sekitar sini.
Ayah : Silahkan aja, tapi jangan balik malam-malam ya
Cowok : Iya Yah. Aku pamit dulu keluar dengan Sinta. Assalamu Alaikum
Orang bau tanah : Walaikum salam. Hati-hati di jalan.
Cowok : Iya Yah.
Si cowok kembali lagi ke ruang tamu untuk menemui si cewek.
Cowok : Aku sudah minta ijin dengan orang bau tanah mu, ayo kita jalan-jalan
Cewek : Sebentar, saya pamit juga dengan orang bau tanah ku. " Ma.. Pa.. saya pergi dulu ya"
Orang tuanya menyahutnya dari dalam : Iya, hati-hati di jalan
Mereka berdua pergi untuk jalan-jalan mengelilingi kota.
Cewek : Sayang kita mau jalan-jalan kemana?
Cowok : Kita keliling-keliling kota dulu, nanti kita mampir di rumah makan biasanya
Cewek : Baiklah, saya nurut aja.
Setelah puas mengelilingi kota, mereka mampir di rumah makan yang cukup glamor dan cocok untuk berduaan. Sambil makan, merekaun berbincang-bincang.
Cowok : pesanlah, kau mau makan apa?
Cewek : menyerupai biasanya aja lah, makan bakso dan minum jus aja
Cowok : oke saya pesan dulu "Bang, pesan bakso dan jus nya 2 ya.
Pelayan : ini om pesanannya
Cowok : mengucapkan terima kasih kepada pelayan
Cowok : Ayo kita makan sayang
Cewek : Ayo..
Cowok : Kok makannya sedikit sekali
Cewek : saya kurang nafsu makan
Cowok : Kamu sakit ya?
Cewek : Enggak?
Cowok : Terus ada apa?
Cewek : Ada sesuatu yang membingungkan ku
Cowok : Ceritakan saja ada apa?
Cewek : Tapi kau jangan murka ya. Begini yank, dikala kau gak ada kabarnya lagi beberapa waktu yang lalu, mantanku nelpon aku. pada dasarnya beliau ngajak balikan.
Cowok : Hah? kemudian apakah kau menerimanya dan apakah kau masih menyayanginya?
Cewek : Entahlah, tapi beliau tiba lebih dulu dari pada kamu. Menurut kamu, apa yang harus saya lakukan?
Cowok : Kalau kau masih sayang sama dia, datanglah padanya
Cewek : Sayang tidak cemburu? Sayang tidak marah?
Cowok : (menunduk dengan bunyi lembut) untuk apa saya cemburu dan marah, mungkin beliau dapat menjagamu lebih dari aku. Dia lebih baik dari aku. Aku cuma punya satu keyakinan, kalau kau benar mencintaiku, kau tak akan mungkin tega meninggalkan aku. *setetes air mata pun jatuh membasahi pipi si cowok
Cewek : (terdiam, terharu, terpaku dengan kata-kata kekasinya). Sayang, dengarkan aku, pandanglah wajahku, tataplah mataku..! Aku tak menginginkan yang lain, saya hanya menginginkan dirimu. Aku kesepakatan akan selalu menjaga cinta kita berdua, saya tak kan pernah meninggalkanmu. Maafkan saya sayang. Aku sangat menyayangimu. (mereka berdua berpelukan)
Pesan Moral : Janganlah menguji kecemburuan seorang lelaki, alasannya kecemburuannya akan terpendam hingga terlihat dengan tetesan air mata. Air mata bagi lelaki sangatlah berarti, lelaki akan terasa mati jikalau hatinya dilukai dan merasa tak dihargai. Ketahuilah bahwa bukan hanya wanita yang dapat menangis, seorang lelakipun dapat menangis.
--------------------------------------------------------------------------------------------------------------------------
Itulah Cerpen Cinta Mengharukan "Air Mata Cinta" yang dapat admin bagikan pada teman-teman semua. Mudah-mudah teman-teman dapat mengambil sisi positifnya dari dongeng di atas. Terima kasih telah membaca artikel ini dan mari mengembangkan artikel ini pada teman-teman lainnya.
Kamis, 28 Maret 2019
Cerpen Cinta Bagaimana Jikalau …
Cerpen Cinta "Bagaimana Jika …" -- Cerpen Inspiratif "Bagaimana Jika …", Cerpen Renungan "Bagaimana Jika …", Cerpen Motivasi "Bagaimana Jika ...", Cerpen Cinta "Bagaimana Jika ..."
Kali ini admin akan membagikan sebuah dongeng yang terangkum dalam Cerpen Cinta Terbaru "Bagaimana Jika …". Cerpen ini sebaiknya dibaca pada malam hari sambil santai di kamar. Langsung saja dibaca Cerpen Terbaru "Bagaimana Jika …" berikut ini.
Kita hidup dalam dimensi yang sama, tapi memaknainya sanggup berbeda. Kebenaran katanya satu, tapi pada prakteknya benar di mata A belum tentu benar di mata B. Pun demikian apa yang kita yakini sebagai hal yang tidak benar, belum tentu merupakah hal yang salah.
Ya, apa yang kita yakini benar. Apa yang kita yakini sebagai apa yang terjadi versi kita. Apakah sama dengan yang dirasakan terjadi oleh orang lain?
Atau sebaliknya, apa yang diakui kebenaran yang terjadi bagi orang lain, apakah memang itu yang kita rasakan?
Bagaimana kalau … bagaimana kalau kita memang tidak pernah membicarakan hal yang sama?
Ini ialah refleksi masa lalu, masa-masa yang telah hilang dan berganti. Masa yang tidak akan pernah kembali walau dituntut kembali. Masa yang tidak akan terulang lagi meskipun dikondisikan biar kembali. Dan ini hanya refleksi. Bukan duduk kasus terjebak di ruang nostalgia ala-ala Raisa. Bukan juga tuntutan biar waktu berputar mundur. Tidak, sama sekali tidak.
Yang pergi biarlah pergi.
Yang berlalu biarlah berlalu.
Akan ada masanya, saat waktu akan kembali berganti.
Tapi, tentu tak ada yang sanggup menyalahkan kalau malam ini renungan saya membawa saya kembali pada lembaran hari yang telah berlalu. Karena memori ialah labirin tanpa ujung yang sanggup menciptakan insan berputar jalan di tempat. Tak sanggup keluar sekalinya masuk. Tak ada yang salah. Cukup biarkan ia mengalir. Dan cukup tuangkan dalam kata, sehingga terurai dengan indah.
Tiga tahun lalu, ya hampir tiga tahun. Dua tahun setengah lebih sedikit. Ah, bulatkan saja sudah tiga tahun lalu. Atau sebaiknya, kita ulang dari enam tahun lalu? Ya, lebih baik enam tahun lalu, atau enam setengah tahun lalu. Entahlah, tidak yakin. Ya, suatu masa di hari itulah. Biarkan memori saya yang mengingatnya dengan pasti.
Enam setengah hingga dua setengah tahun lalu? Terlalu lama. Tapi diantar periode itu. Saya pikir di antara periode itu. Rasanya ibarat hidup dalam dongeng dongeng. Bling-bling manis dengan gaun istimewa dan sepatu kaca. Tangan kanan selalu digandeng pangeran yang waktu itu terlihat paling tampan. Semua berjalan dengan lancar dan lempeng-lempeng saja. Sejenak, drama kehidupan yang biasanya lebih seru dari drama sabung di televisi, mereda. Begitu saja. Seperti saya lupa memarkir dimana naga saya. Entahlah, yang terang adegan zoom in zoom out dengan music horror tiba-tiba hilang dari peredaran. Everything seems too good to be true. But it happened.
Dalam bayangan saya.
Dalam sudut pandang saya.
Apalagi orang-orang yang selama ini berkomentar seolah menyetujui sudut pandang saya. Seolah melihat hal yang sama.
Mungkin memang iya.
Tapi sekali lagi, niscaya ada yang melihatnya berbeda.
Atau mungkin dongeng ini memang punya dua sisi.
Satu sisi yang saya yakini bersama lainnya.
Dan sisi lain, yang ada dan tak pernah terungkapkan.
Sampai selesai tahun lalu, tidak pernah mencoba menelaah baik-baik apa yang terjadi.
Sampai selesai tahun lalu, saat tiba-tiba ada fakta terlewatkan yang menyembul naik ke permukaan tanpa permisi. Diperdengarkan dari verbal ke verbal yang kadar reliabilitasnya perlu ditanyakan.
Tapi ada.
Ya, ada.
Ada versi lain dalam sebuah dongeng yang saya yakini telah saya ketahui semua.
Tapi ternyata tidak.
Tidak pernah benar bahwa putih ialah warna, melainkan kumpulan dari seluruh warna.
Seperti itulah.
Tidaklah benar bahwa saya tahu semuanya sementara yang tercermin pada mata hanya satu. Satu yang paling sanggup diterima nalar sehat.
Meskipun tahu tidak akan mengubah apapun. Meskipun kebenaran tidak semua perlu dipertanyakan. Meskipun yang terjadi dan telah berlalu tidak elok untuk dibawa kembali.
Ya. Itu beliau masalahnya.
Apakah merubah fakta bahwa yang berakhir sudah memang berakhir, kalau kebanaran dua sisi terungkap? Bukankah sama saja. Yang berlalu akan tetap berlalu.
Sama ibarat kenyataan bahwa terjadi pembantaian keji pada tanggal 30 September 1965. Apakah masih penting untuk tahu siapa dalang utamanya toh pembantaian itu telah terjadi?
Ya, tentu saja penting.
Untuk mencar ilmu dari sejarah.
Untuk tidak menyebar fitnah.
Untuk menegakkan keadilan.
Meskipun nyawa yang pergi tak kan pernah kembali?
Meskipun banyak nama yang kemudian merugi alasannya ialah disebut golongan kiri, berkhianat dan sebagainya?
Entahlah, mungkin penting.
Sekali lagi, semakin tidak terang apa itu kebenaran.
Bagaimana jika… bagaimana kalau kebenaran itu menyakitkan dan semakin menciptakan sakit yang ada menjadi tak sanggup diobati?
Apakah tetap perlu diangkat atau kuburkan secara perlahan hingga hati ini lupa pada perihnya?
Akankah merugi membuka pintu maaf dan memulai hidup baru?
Apakah hina untuk menentukan tidak tahu dan menjalani kebenaran versi yang diyakini?
Sehingga tidak banyak yang terluka.
Tidak ada yang meradang.
Menutup lembaran gelap.
Memulai hidup baru.
Menjalani dengan tegar.
Membagikan cinta pada sesama.
Berkoar pada idealisme semu untuk menegakkan kebenaran. Tapi terbelenggu sendirinya pada ketakutan akan kenyataan yang sebenarnya.
Benar versi mereka.
Benar versinya.
Benar versi yang lain.
Apakah benar kita harus dikonfrontasi dengan benar mereka?
Ataukah cukup masing-masing berjalan sesuai arahnya.
Di persimpangan kita sama-sama berhenti. Dan kemudian mengarahkan kuda pacu ke arah yang sama sekali tidak bersisian lagi.
Hari itu kau pergi, sehabis bertahun lamanya membawakan dongeng tidur yang indah untuk mimpi saya.
Perlukah kebenaran-kebenaran lainnya diketahui.
Sementara kenangan indah itu layak dilupakan begitu saja. Tidak untuk dipanggil kembali dan diuji kebohongannya.
Bukanlah lebih tenang untuk membisu dan melupakan.
Ya, benar.
Lebih baik begitu.
Tenang, membisu dan nantinya melupakan.
Bagaimana kalau … bagaimana kalau itu yang saya lakukan.
Sama ibarat di pengantar animo panas kala itu. Sama ibarat hembusan angin yang masih saja berhembus kencang walaupun itu animo panas. Sama ibarat tangis yang bercampur dengan hujan di animo gugur. Sama ibarat waktu harus memakai kacamata hitam di animo dingin. Sama ibarat pada waktu itu.
Kali ini pun lebih baik terjebak pada keheningan yang sama.
Bagaimana jika, itu jalan yang saya pilih.
Untuk tidak mendendam. Untuk tidak menuntut. Untuk tidak mencari kebenaran.
Bagaimana jika, ah tidak perlulah lagi kita berandai-andai.
Apapun yang terjadi, apapun yang dirasakan masing-masing. Pergi tetaplah pergi. Terima kasih untuk setiap pelajaran yang berharga.
Bagaimana jika, suatu hari kita bertemu dan saya menyapamu dengan senyum sehangat Sembilan tahun lalu.
Tapi sehabis saya kembali ke masa itu, ke Sembilan tahun kemudian itu. Oh tidak, bukan Sembilan tahun, tapi delapan setengah tahun yang kemudian itu. Saya ingat, senyum saya sama sekali tidaklah hangat.
Agak sedikit mencibir.
Ya, bagaimana kalau suatu hari nanti kita bertemu kembali. Pada hari yang biasa. Pada waktu yang tidak kita rencanakan. Bagaimana kalau saya kembali menyapamu dengan senyum agak mencibir itu.
Bagaimana kalau …
(Inspired by a ‘linear’ artist, thanks!)
Baca juga ;
Baca juga ;
Itulah Cerpen Terbaru "Bagaimana Jika …" karangan Ratih Ayu Apsari. Semoga cerpen tersebut sanggup menawarkan pesan watak yang baik untuk kita semua. Jangan lupa untuk share (G+1 / FB) cerpen ini pada teman-teman lainnya. Terima kasih dan silahkan baca-baca artikel lainnya di blog ini.
Cerpen Cinta Saya Cupid
Kali ini admin berikan sebuah kisah yang terangkum dalam Cerpen Cinta Terbaru"Aku Cupid". Cerpen ini sanggup dibaca sambil santai untuk mengisi harimu yang sedang kosong. Nah eksklusif saja kita baca cerpennya berikut ini.
*Cupid Point Of View*
Aku cupid. Dewa cinta. Panahku cepat, sempurna melesat, tak pandang bulu. Siapa yang terkena niscaya terlena. Rajutan cinta sanggup untuk siapa saja. Tua, muda, kaya, miskin, laki-laki, perempuan, tak peduli asalmu, tak peduli latar belakangmu. Bersiaplah untuk mencicipi jauth berdiri yang disebabkan panahku. Bersiaplah mencicipi kupu-kupu di perutmu, pusaran gemuruh di hatimu dan kekosongan di otakmu.
Bersiaplah atas kekacauan yang akan ku buat.
Hanya lantaran sebuah panah yang melesat ke arahmu.
***
Riana tak habis pikir. Ia bertemu laki-laki itu dua kali. Dua kali saja. Itupuntak sengaja. Di tengah kerumunan sekian banyak orang yang kebetulan sama-sama mengurus nomor pajak. Di antara lautan manusia, kenapa sanggup dokumennya jatuh sempurna di depan kawasan duduk laki-laki itu. Pandangan mereka beradu dan seolah ada magnet berbeda kutub di pandangan masing-masing, usang sekali. Sampai nomor delapan puluh tiga yang dipegang Riana dipanggil tiga kali lewat pengeras suara.
Riana berguling-guling di kasurnya. Itu sudah sebulan lalu. Pertemuan pertama itu sudah sebulan lalu. Riana bahkan tidak tahu namanya, Tapi kemarin dikala ia sedang reuni dengan teman-teman kecilnya, laki-laki itu muncul lagi. Ia duduk di meja seberang bersama dengan tiga laki-laki lainnya. Berpakaian rapi ala ala pekerja kantoran. Riana sibuk membagi dua konsentrasinya. Antara teman-teman atau laki-laki itu. Mencuri pandang berulang kali. Sampai tiba-tiba, laki-laki itu juga memandangnya. Lagi. pandangan itu ibarat tak ingin diakhiri.
***
Gadis itu lagi. Matanya selau bersinar hangat. Tapi kenapa dengan ekspresinya. Kenapa ia swlalu kaget melihatku. Aku perhatikan daritadi. Ia begitu ceria dengan teman-temannya. Menertawakan banyak sekali macam hal wacana masa mudanya. Ah, saya dengar ia berkelakar wacana mantan pacarnya yang dikala ini menghubunginya kembali sehabis tiga tahun yang kemudian kedapatan selingkuh. Ia tertawa lepas. Tidakkah itu kisah sedih? Ia terlihat ibarat gadis yang suka menertawakan kehidupan. Lucu sekali.
Siapa tadi namanya? Riana? atau Rihana? Tapi nomornya delapan puluh tiga, maksudku bulan lalu. Nomor antreannya delapan puluh tiga. Aku sanggup menanyakannya pada Alea nanti. Dia niscaya sanggup menemukannya.
***
*Cupid Point Of View*
Aku cupid. Panah cinta yaitu kuasaku. Lihat pasangan yang tertembak itu. Ini pertemuan kedua mereka, itu pikir mereka. Tapi ini bahu-membahu pertemuan ke tiga ratus dua puluh empat mereka. Tak ada yang saling menyadari pertemuan satu sama lain sebelumnya, sebelum ku tembakkan panah cintaku dan mengubah takdir mereka.
***
Riadi membolak balik handphonenya cemas. Sore tadi ia sudah minta tolong adik sepupunya yang bekerja di kantor pajak, Alea. Ia sudah memaksa Alea membongkar berkas untuk menemukan siapa pemilik nomor antrean delapan pulu tiga pada suatu hari yang biasa di dikala mereka pertama kali bertemu.
Riana. Itulah nama gadis itu. Ia bekerja sebagai guru Sekolah Dasar. Manis sekali. Keibuan, pantas saja sorot matanya hangat. Riadi membolak-balik handphonenya, membuka dan menguncinya kembali. SD Pelita Harapan. Hanya berjarak 100 meter dari perusahaannya. Praktis sekali untuk dicari. Tapi bagaimana ia sanggup menemuinya. Ia tidak punya alasan.
Riadi tertidur dengan handphone di sebelahnya. Agendanya hari ini untuk menuntaskan tawaran kantornya tinggal kenangan. Urusan hatinya masih sulit diatasi.
***
Pagi ini saya begitu bersemangat ke sekolah. Hari Ujian Tengah Semester telah tiba! Well, saya sika sekali mengajar. Tapi ada kalanya saya lelah, ya kan? Dan sehabis tiga bulan berkutat dengan bawah umur menggemaskan ini, saya fiks lelah. Ingin istirahat sebentar. Ujian Tengah Semester yaitu dikala yang pas untuk itu. Apalagi sebentar lagi pastinya ada liburan sekolah. Aku butuh istirahat.
Hari ini tentu saja sekolah ramai semenjak pagi-pagi sekali. Ratusan orang bau tanah mengantarkan putra-putrinya ke sekolah, menyemangati mereka semoga sanggup menuntaskan ujian dengan baik. Tak jarang memaksa menunggui, walau pihak sekolah tidak mengizinkan. Anak-anak kami perlu dididik mandiri.
Ada kemacetan di pagar sekolah. Semuanya berebut masuk. Biasanya saya niscaya berbelok dan menghindari kerumunan. Bersantai sebentar di warung Bi Ita. Tapi entahlah, saya sudah bilang bukan jikalau saya bersemangat sekali pagi ini?
Tanpa ragu saya ikut bergerombol di depan pagar, mencoba untuk masuk. Ternyata lebih sulit dari yang kubayangkan. Padahal saya pakai seragam, apa orang bau tanah murid ini tidak menyadari? Haha.
Aku tetap tersenyum. Pokoknya saya bersemangat. Tidak hanya itu, saya bahagia. Rambut yang sudah ku tata dari pagi, ada sedikit gulungan di potongan bawahnya, sudah mulai tertarik-tarik di kerumunan. Tapi saya sama sekali tidak marah. Apa saya memproduksi hormon kesabaran terlalu banyak hari ini?
***
Itu dia! Itu gadis yang berjulukan Riana itu. Berkerumunan di antara orang bau tanah yang mengantar anaknya dengan tidak sabaran. Ah, lihat itu. Manis sekali. Ia terlihat sangat ramah. Walaupun niscaya sangat sulit berada di posisinya dikala ini, ia tersenyum menyapa orang-orang yang berdesakan. Apa semua guru memang semanis ini? Ah, lihat itu. Seragam batik itu sangat cocok untuknya.
“Selamat pagi Bapak, apa Bapak orang bau tanah murid? Saya belum pernah bertemu Bapak sebelumnya. Ada yang sanggup saya bantu?” sebuah bunyi mengejutkanku. Aku berbalik dan menemukan seorang Bapak dengan peci hitam di kepalanya. Rambutnya sudah penuh dengan uban. Sorot matanya ramah dan begitu pula dengan nada suaranya.
“Selamat pagi Bapak. Perkenalkan nama saya Riadiyantara, saya dari perusahaan ekspor di seberang jalan. Bapak mungkin pernah melewati kantor saya, sangat bersahabat dari sini.” Aku berusaha bicara setenang mungkin dan menjabat tangan Bapak tadi.
“Tujuan saya kesini, hmm. Tidak ada secara spesifik, saya hanya ingin observasi sekolah. Apa tidak baik untuk dilakukan?” saya mulai panik. Bagaimana jikalau saya dikira orang jahat? Maksudku, ada banyak kasus pedofil belakangan ini, jangan-jangan saya dikira predator. Ah, mengapa saya kesini tanpa alasan sih?
Bapak tadi mengernyitkan kening. Gawat bisa-bisa saya dipanggilkan security.
“Selamat pagi Bapak Kepala Sekolah!”
Sebuah bunyi mengejutkan kami berdua. Ceria sekali. Tanpa menoleh, saya seolah sanggup tahu siapa pemiliknya. Tapi justru lantaran itu, saya menoleh lebih cepat.
***
Sekali lagi. Sekali lagi pandangan kami beradu.
Di depan Bapak Kepala Sekolah pula. Mengapa laki-laki itu ada di sini? Maksudku, ini kan kawasan kerjaku.
“Selamat pagi Dik Riana, ceria sekali pagi ini.” Bapak Kepala Sekolah menjawab salamku ramah.
Susah payah kualihkan pandanganku dari laki-laki tadi ke Kepala Sekolah.
Kemudian saya mematung kembali.
Apa yang harus saya lakukan?
Kepala Sekolah memandangi kami bergantian. Lalu menggelengkan kepalanya sambil terkekeh.
Pria tadi membuntuti Kepala Sekolah kami ke ruangannya.
Aku? Apa yang harus saya lakukan?
***
Ah, memalukan sekali. Pada alhasil saya membuntuti bapak berpeci hitam yang ternyata yaitu Kepala Sekolah tadi ke ruangannya.
Diam seribu bahasa bahkan hingga teh di gelas yang dia hidangkan di hadapanku kosong.
“Nak Riadi, mencari Dik Riana?” sehabis usang berteman kesenyapan, Kepala Sekolah tadi alhasil bertanya.
“Maafkan saya Bapak, saya mungkin resah sekali mau kemana, hingga alhasil saya justru kesini. Saya tidak bermaksud jelek dengan sekolah Bapak beserta orang-orang didalamnya. Tapi saya juga tidak sanggup menjelaskan apa yang saya maksud kini ini.” Oke, klarifikasi yang buruk.
Kepala Sekolah tadi tersenyum kembali.
“Adik tidak ada pekerjaan di kantor? Kalau masih ada, pergilah dulu. Kapan Adik tahu harus bicara apa dengan Riana, datanglah kembali. Boleh melalui Bapak.” Katanya, sangat bijaksana.
Aku menatapnya sangat ragu. Apa saya terlihat terang ibarat orang yang jatuh cinta?
***
Sampai jam pulang sekolah, saya tidak melihat laki-laki itu lagi. Ia tidak mencariku. Ia mencari Kepala Sekolah dan sudah begitu saja. Kepala Sekolah juga tidak bicara apa-apa padaku. Mengesalkan sekali. Makara dia memang kebetulan saja kemari. Atau saya tanyakan Kepala Sekolah ya, apa yang bahu-membahu mereka bicarakan?
Andai saja hari ini saya tiba lebih cepat dan tidak dorong-dorongan di pagar tadi, ia niscaya melihatku lebih cepat. Aku sanggup saja menanyakan namanya. Ah, kenapa hari ini ia tiba-tiba muncul dan menciptakan hariku naik turun.
Mengesalkan sekali.
***
Riadi menghabiskan waktu di kantornya hingga lewat jam yang seharusnya. Entah apa yang dipikirkannya. Tugas-tugasnya sudah selesai semua. Ia bahkan membantu pekerjaan seniornya. Ia tidak ingin pulang hari ini. Ia malu, aib sekali. Ia sudah bertemu gadis yang ia mimpikan semenjak sebulan lalu. Tapi ia tidak sanggup berkata apa-apa. Kepala sekolah tadi baik, pikirnya. Tapi entahlah, ia tidak punya muka untuk bertemu dengannya lagi.
Riadi menyeruput gelas kopinya yang kelima, ini yang terakhir janjinya. Setelah ini ia akan pulang. Tidur. Ia akan melupakan hari ini.
Mungkin juga melupakan Riana.
***
*Cupid Point Of View*
Aku cupid. Tugasku yaitu menciptakan dua orang jatuh cinta. Perkara berhasil tidaknya cintanya, dikembalikan ke yang bersangkutan. Aku Cupid. Sekali kau terkena panahku, kau akan tergila-gila pada ia yang kutembakkan panah bersamaan denganmu. Suka atau tidak suka. Tidak ada obatnya.
Baca juga kisah lainnya ya:
Baca juga kisah lainnya ya:
Cerpen Cinta Saat Cinta Tak Lagi Berkata
Cerpen Cinta Terbaru "Ketika Cinta Tak Lagi Berkata" -- Cerpen Inspiratif "Ketika Cinta Tak Lagi Berkata", Cerpen Motivasi "Ketika Cinta Berkata Kata", Ketika Cinta Tak Lagi Bermakna, Ketika Cinta Tak Lagi Cukup, Ketika Cinta Tak Lagi Bisa Dipertahankan, Ketika Cinta Pindah ke Lain Hati.
Kali ini admin akan membuatkan sebuah cerpen terbaru yang berjudul "Ketika Cinta Tak Lagi Berkata". Langsung saja baca cerpen berikut ini dengan penuh makna.
Kali ini admin akan membuatkan sebuah cerpen terbaru yang berjudul "Ketika Cinta Tak Lagi Berkata". Langsung saja baca cerpen berikut ini dengan penuh makna.
Aku membaca lagi pesan yang ia kirimkan lewat aplikasi pesan instan di handphoneku.
"Maafkan saya untuk baiklah dengan pilihan orang tuaku."
Singkat, padat dan jelas.
Jelas untukku lantaran seminggu ini perdebatan ihwal duduk kasus hubungan kami memang tidak terelakkan.
Ah, hanya dalam seminggu ia sudah sanggup menciptakan keputusan.
Sementara hubungan lima tahun ini, apakah tidak ada sesuatu yang istimewa baginya.
Aku menatap kosong pada air yang melekat di jendela.
Hujan. Deras sekali. Butiran airnya besar-besar, hingga saya sanggup mendengar ya bertabrakan dengan jendela.
Ah, betapa pas sekali dengan suasana hatiku.
Dunia begitu toleran pada kisah hari ini.
Dikirimnya hujan, semoga saya tak menangis seorang diri.
Petir menyambar beberapa kali. Juga ada kilat. Aku bersama-sama ingin keluar. Biar sekalian badan ini berair oleh hujan.
"Yang terbaik tidak akan pernah pergi,"
Begitu ia pernah berkata pada suatu masa. Aku ingat, ia bahkan tersenyum sangat manis kala itu.
Sudah lama, di waktu saya kesulitan keuangan akhir beasiswa yang terputus lantaran nilai semesterku jatuh. Waktu itu saya hanya mahasiswa semester 6 yang terombang ambing antara idealisme, akademik dan himpitan ekonomi.
Aku bertemu dengannya di suatu pagi yang biasa di Bulan November. Di ujung jalan kampus sebelum belokan menuju laboratorium komputer. Aku yang tanpa arah sehabis ditinggal pergi kekasih yang belum ada satu semester saya pacari dikala itu, nampak kacau. Pada dikala itulah, saya melihatnya. Cantik dan segar ibarat aroma yang ditimbulkan pada dikala hujan berakhir. Seperti itulah, ia memperlihatkan tangannya untuk merapikan kembali hatiku. Membawa keinginan baru. Persis ibarat mentari yang muncul kembali ketika hujan berakhir.
Kami bertegur sapa lantaran ia tidak sanggup melihatku yang ibarat orang linglung. Tas ransel ku terbuka dikala itu dan buku-buku algoritma pemrogramanku hampir berhamburan ke luar.
"Sebentar," katanya. Lembut, tapi ibarat perintah.
Aku diam. Membiarkan ia yang berjalan di arah berbeda denganku, mendekat. Mengulurkan tangannya untuk menutup resleting tasku.
Aku tidak mengeluarkan bunyi apapun. Entah lantaran terlalu terpesona atau saya aib pada diriku.
"Anak TI ya, kak? Programnya debug ya? Gitu banget wajahnya." katanya lagi.
Aku tersenyum malu-malu.
Sepertinya semua jaringan syarafku tereset ulang ibarat waktu saya bayi. Aku kehilangan memori untuk sanggup tahu apa yang sebaiknya saya lakukan.
Begitulah pertemuan awal kami. Aku yang memalukan dan ia yang sangat menakjubkan.
Sejak dikala itu saya selalu berusaha mencari cara bertemu dengannya. Ia yakni mahasiswa Jurusan Farmasi. Aku merasa sudah terobati tiap kali melihat wajahnya. Benar-benar cocok jurusan itu untuknya.
Butuh waktu yang usang untuk mendekatinya. Meskipun ia ramah dan sangat ceria, ia tak gampang untuk didekati dalam konteks romantis. Selalu menjaga jarak. Penolakan demi penolakan ku temui. Tidak sekali dua kali. Sampai jadinya ketika sidang skripsiku. setahun sehabis pertemuan kami, ia mengiyakan ajakanku untuk membangun hubungan yang lebih serius.
Ah, tentu saja. Gadis tampaknya mana mau dengan mahasiswa kacangan yang tidak sanggup menuntaskan skripsinya.
Pantas saja ia menunggu hingga saya menuntaskan skripsi.
Tapi kesetiaannya boleh diadu. Ia menungguku dengan baik. Ia tidak meninggalkanku dengan laki-laki lain walau banyak yang mendekatinya.
Aku membaca kembali pesan di layar handphoneku.
Sebutir air mata bergulir dan disusul teman-temannya.
Apa maksudmu, Diona ...
Mengapa sekarang?
Kami gres saja membahas ihwal ijab kabul sebulan yang lalu. Di hari ulang tahunnya.
Aku bersama-sama ingin menjadi laki-laki yang romantis pada waktu itu. Makara kusiapkan sebuket bunga, yang terbaik yang saya bisa, balon-balon berbentuk hati dengan warna merah jambu dan putih, dan tak ketinggalan cupcake aneka warna dengan kartu ucapan di bab atasnya. Model itu sedang kekinian di kalangan anak muda. Makara saya tidak ingin melewatkannya.
Aku tiba ke rumahnya dengan membawa semua itu. Menitipkannya pada adiknya dan memintanya membantuku menghias ruang tamu. Aku bertemu orang tuanya juga dikala itu. Ah, mungkin saya terlalu senang di hari ulang tahun Diona hingga tidak menyadari bagaimana raut wajah keluarganya ketika saya datang. Apakah mereka senang dengan rencanaku dikala itu? Apakah mereka menghargai usahaku? Apakah mereka menyambut hadirku?
Karena bila iya, mustahil hari ini saya menerima pesan yang mengejutkan ibarat barusan.
Aku memang perjaka kacangan. Gembar-gembor memulai start-up, tapi yang kulakukan hanya bermain-main. Apa lantaran itu Diona meninggalkanku? Apa lantaran itu orang tuanya ingin ia bersama laki-laki lain?
Seketika ku ingat masa-masa jatuh bangunku lima tahun ini. Selalu ada Diona di sana. Siap pasang hati yang sekuat baja setiap kali saya terpuruk. Itulah Diona. Tidak pernah lelah menyemangatiku dan memintaku bangun kembali.
Sementara aku. Apa yang sanggup kulakukan untuknya?
Ketika ia menuntaskan S2 nya sambil tetap bekerja, saya hanya bermimpi besar tanpa realisasi. Ketika ia membangun perjuangan produk pengobatan herbalnya, saya yang diminta bantu promosi pewat Google Ads malah tidak serius. Sampai-sampai kawan kerjanya memperkerjakan IT lain untuj merk mereka. Ah, saya telah membuatnya aib lantaran ketidakbecusanku ini.
Bukan hanya sekali. banyak kekecewaan yang kutorehkan pada hari-harinya. Hanya saja saya gres menyadarinya. Di dikala yang benar-benar terlambat.
Apakah pantas saya mengeluh sekarang?
Kuletakkan handphoneku sambil menarik napas panjang dan lama.
Adzan maghrib berkumandang.
Aku memang melaksanakan kesalahan dengan menyia-nyiakan Diona. Tapi bila ia menentukan untuk tidak menemani jalanku lagi, itu yakni haknya. Kewajibanku yakni memperbaiki diri. Memastikan tidak ada Diona-Diona lain yang akan tersakiti. Ia pergi lantaran suatu alasannya yang ia sendiri yang tahu. Aku hanya sanggup menebak-nebak. Apapun yang menjadi alasannya, pada dasarnya ia tidak mencintaiku sebesar ia mempercayai alasannya untuk pergi.
Aku pun tidak sanggup mencintainya lagi.
Aku membasuh wajahku dengan air. Siap bersujud, mengadu pada ilahi.
Tuhan yang Maha membolak-balikkan hati, kuatkanlah hamba-Mu. Bantu hamba untuk maju dan menjadi langsung yang lebih baik lagi.
Dan teruntuk kekasih yang merajai hatiku lima tahun belakangan, pergilah. Semoga kau senang dengan keputusanmu. Mudah-mudahan pilihanmu tidak menyakitimu nanti. Tidak mengecewakan ekspektasimu. Tidak membuatmu menyesal telah meninggalkan aku, laki-laki yang pernah setulus hatinya memujamu. Teriring doa yang lapang dada untuk kebahagiaanmu. Dan ucapan hingga bertemu lagi, suatu dikala nanti. Ku harap dikala itu, saya sanggup menjadi orang yang lebih baik, yang mungkin selama ini luput dari dugaanmu.
Terima kasih banyak atas pelajaran hidup yang kau berikan. Terima kasih banyak atas permakluman yang selalu kau hadiahkan. Atas pengertian dan kerja kerasmu, juga atas kesediaanmu hidup sederhana denganku di waktu yang lalu.
Dear Diona,
Berbahagialah.
Baca juga : Cerpen Terbaru " Aku Cupid" , dan Alfabet Keberhasilan Pribadi
Cerpen Cinta Abad Kamu Menyapaku
Cerpen Cinta "Kala Kau Menyapaku" -- Cerpen Cinta "Kala Kau Menyapaku", Cerita Cinta.
Halo sobat karyaku, agar dalam keadaan sehat. Kali ini kita admin berbagi Cerpen Cinta "Kala Kau Menyapaku". Cerpen ini menceritakan pertemuan dua manusia yang gres mulai mengenal sampai bersatu dalam sebuah pernikahan. Langsung saja baca cerpen berikut dengan hati yang penuh makna.
Pertemuan yaitu skenario yang sepenuhnya diatur oleh Sang Kuasa. Saat itu, saya dan kau masih belum saling mengenal. Wajahmu pun saya tak hafal. Apalagi namamu. Siapa kamu?
Aku dan kau dipertemukan di perpustakaan, kala saya khusyuk menyelami dunia maya, menggali isu wacana jurnal ilmiah yang ingin dituju. Sembari menunggu seorang sobat yang tak kunjung datang. Padahal beliau yang biasanya lebih rajin nongkrong di perpus ini. Ah, usang juga menanti.
Siang itu hujan turun cukup deras. Sesekali ku toleh kanan kiri. Masing-masing sibuk dengan komputernya. Lumayan. Menikmati internet gratis di salah satu ruangan perpus ini. Hujan tak kunjung reda, sobat yang dinantikan pun membatalkan niatnya untuk ke perpus. Ya, saya sendiri disini.
Waktu terasa lambat bergerak menuju pukul 4 sore. Menunggu waktu untuk mengajar belajar khusus sebakda asar nanti. Aku tetap duduk di posisiku. Klik ini. Klik itu. Baca ini. Baca itu. Mencoba soal belum dewasa SMA, kadang lupa, kadang ingat. Seru juga. Tetapi lama-lama bosan juga, balasannya saya menentukan menonton film-film pendek favoritku lewat youtube.
Baca juga : Kata-kata Bijak wacana Cinta dari Tokoh Dunia
Lalu, hari itu, untuk pertama kalinya kau menyapa diriku. Kau tahu namaku, namun bertanya lagi kepadaku untuk meyakinkan tebakanmu bahwa kau tak salah orang. Ya, betul ini aku. Tapi kau siapa? Pikirku dikala itu.
Ah, maafkan saya yang tak pernah menatap wajahmu. Tak pernah menyadari hadirnya dirimu di sekitar ku, beberapa hari, beberapa waktu sebelum kali pertama ini kau menyapaku. Ternyata kau ada, di antara kakak-kakak tingkat lainnya. Bercengkrama, bercanda, bercerita, hanya saja saya yang tak terbiasa melihat, menatap wajah lawan jenis secara langsung, memandang secara seksama sehingga pada hari pertama kali kita bertegur sapa, saya tak ingat, tak tahu bahwa kau abang tingkatku. Bahkan saya tak tahu jikalau kita berada di dalam 1 grup yang berjulukan "skripsi & tesis" itu. Aku dan kau berada dalam bimbingan dosen yang sama. Hehehe.
Baca juga : Tips Agar Pacaran Langgeng Sampai Menikah
Kau tahu namaku, tapi tetap saya tak tahu namamu, kak. Dan dikala itu saya tidak bertanya balik. Siapa kakak? Hahaha. Kebiasaan memang. Malas merespon balik. Menjawab sekenanya saja. Tidak tertarik sih. Hehehe. Seingatku, saya hanya menanyakan sejauh mana tesismu alasannya belum pernah ku lihat aktivitasmu dalam grup kita.
Azan asar berkumandang. Ku rasa bukan sebuah kebetulan, dikala itu saya sedang dalam keadaaan "berhalangan" untuk melakukan sholat. Pastilah ini juga serpihan dari skenario-Nya. Caranya mempertemukan kita.
Kau titipkan laptopmu padaku, pas sekali dikala saya dihentikan sholat. Hmm, ternyata memori pertemuan ini menjadi salah satu evaluasi positifku kepadamu di dikala saya mengambil keputusan berat dan mempertimbangkan akan hadirnya dirimu kelak dalam hidupku.
Ketika azan memanggil, kau ringankan langkahmu untuk bergegas mendirikan sholat, begitu nilaiku tentangmu. Walaupun dikala itu, saya sempat menggerutu alasannya kau tak kunjung pulang dari mushola. Lama sekali sholatnya, mampir kemana sih ? Baru juga kenal. Tanyaku kesal dalam hati. Sebab waktu hampir menunjukkan pukul 4. Aku harus bergegas berangkat ke rumah siswaku.
Akhirnya kau tiba bersama teman-temanmu. Aku tak begitu memperdulikan ucapan terimakasih darimu alasannya sudah menjaga laptopmu. Aku buru-buru mengambil barang-barangku kemudian menuju ke loker dan memasukkannya ke dalam tasku. Memeriksa isi tas dan mencari kunci motorku. Lalu segera menuju ke daerah mengajar yang lokasinya tidak begitu jauh dari perpus.
Pertemuan sore itu dengan mu, ku anggap hal yang biasa.
Bukan sesuatu yang istimewa.
Makara kala itu hatiku biasa saja.
Berlalu begitu saja.
Baca juga : Kata-kata Mutiara wacana Cinta dan Jodoh
Sepulang mengajar, selepas maghrib, menyerupai biasa saya sudah tiba di rumah. Malamnya, handphone-ku berdering pendek, oh ada pesan Line. Ternyata itu kamu. Mau apa lagi pikirku. Ah, ternyata kau hanya ingin mengulangi ucapan terimakasih. Apalah pikirku. Berlebihan sekali, kan hanya nitip laptop. Ucapan terimakasih di perpus tadi sudah cukup rasanya. Meskipun begitu, ya, ku balas pesan darimu sekedarnya saja, menghargai dirimu sebagai abang tingkatku. Kontak Line dalam grup "skripsi & tesis" ini menciptakan mu menjumpaiku kembali di dunia maya.
Obrolan singkat lewat dunia maya di malam itu, ialah gerbang awal dialog kita. Obrolan yang pada balasannya mengantarkan kita pada gerbang kehidupan berikutnya.
Perkenalan yang cukup singkat. Hanya berjarak lima bulan dari hari itu, kau dan aku, ditakdirkan bersatu, menikah dan senang insyaAllah selamanya.
Seperti harapmu, AKU dan KAMU balasannya menjadi KITA. Ciyeee...
Lanjutkan membaca dongeng berikutnya ya : Cerpen Cinta "Pertemuanmu dengan Ayahku"
Lanjutkan membaca dongeng berikutnya ya : Cerpen Cinta "Pertemuanmu dengan Ayahku"
Cerpen Cinta Pertemuanmu Dengan Ayahku
Cerpen Cinta "Pertemuanmu dengan Ayahku" -- Cerita Cinta "Pertemuanmu dengan Ayahku".
Hai sobat semua, kali ini akan menyebarkan kisah yang terangkum dalam Cerpen Cinta "Pertemuanmu dengan Ayahku". Langsung saja baca di bawah ini yaa..
Cerpen ini merupakan kelanjutan dari cerpen sebelumnya yang berjudul "Kala kau menyapaku". Bagi yang belum membacanya, silahkan baca terlebih dahulu, sedangkan bagi yang sudah membaca, silahkan lanjutkan membaca.
***
Untuk pertama kali nya, beberapa menit yang singkat, hanya kau dan aku. Dimulai hari itu, kita melangkah lebih jauh.
Setelah dialog pertama lewat pesan Line itu, kau mulai rajin menghubungiku. Walaupun sekedar mendapatkan jawaban dua huruf, tiga huruf, sepatah dua kata saja dari ku.
"Ya"
"Ok"
"Sip"
Begitu saja.
Hahaha.
Setiap kali bertemu di perpus, kau berusaha mencari waktu untuk berbicara banyak denganku. Jujur saja dikala itu saya takut sekali. Ditawari ngobrol santai sambil makan, tapi saya takut. Padahal diajak makan ya, hehehe. Namun kau bilang hanya ingin memberikan dan bertanya sesuatu.
Baca juga : Kata-kata Bijak perihal Berani
Setelah beberapa kali mengalami penolakan dariku dan saya yang terus menghidar darimu, jadinya suatu sore, dengan terpaksa saya terima tawaranmu. Ku belokkan motorku ke salah satu rumah makan langgananku. Lalu kau membuntuti ku dan memarkirkan motormu sempurna di sebelah motorku.
Tak ingin berlama-lama, jadinya saya hanya memesan minuman dengan alasan masih kenyang. Biarlah kau saja yang punya uang yang pesan makan, pikirku. Ditraktir oleh orang yang gres dikenal, pria pula. Duuhh.. Sepertinya kau pun mengerti hingga sore itu kau makan cepat sekali.
Di sela santapanmu, kau sampaikan impian mu untuk mengenalku lebih dekat. Sedang dalam pikiranku, kalimat yang kau lontarkan itu menyerupai berarti,
"maukah adek menjadi pacar kakak?"
Aaahh, godaan macam apalagi ini, di dikala saya sedang ingin bergegas dan fokus menuntaskan kiprah akhirku, si abang malah tiba ingin bertamu di hatiku.
Tanpa menatapmu, mataku jauh memandang ke arah parkiran motor. Dengan agak gugup, ku katakan padamu, bahwa saya tidak bisa. Aku tidak suka berpacaran. Aku rasa dunia kita tak sama, pergaulan kita berbeda, mustahil sanggup dicocokkan.
Lalu, kau patahkan kalimatku, kau bilang kau memang tidak sedang mencari pacar. Kau bilang kau ingin menikah.
"Kakak serius dek, abang mencari calon istri".
Deg!
Deg!
Oh ya Allah...
Seperti janjimu di awal, kau hanya ingin memberikan niatmu dan bertanya perihal kesiapanku serta statusku. Sembari sedikit-sedikit menggali informasi lainnya. Seperti dimana rumahku? Yang berkali-kali juga hanya ku jawab dengan bercanda,
"di bumi, kak", jawabku.
*peace*
Kau tidak memaksaku untuk memberi jawaban dikala itu juga. Aku bingung. Berkali ku katakan, tidak bisa. Tapi kau memintaku untuk berpikir kembali. Akhirnya saya pulang dengan rasa penuh tanya.
Ku ceritakan pada Ibu, sosok penuh kasih, tempatku mencurahkan isi pikiran dan hati. Kami suka bercerita mulai dari hal yang tidak begitu penting hingga kepada hal yang genting. Awalnya Ibu hanya bercanda. Ibu menggodaku,
"nah, itu ada perjaka yang naksir".
Aahhh, Ibuuuk.
Aku malu. Aku bingung. Sebab saya tidak pernah berniat mencari calon imamku di daerah ini. Aku sudah mencoba di tempat-tempat menurutku terbaik juga melalui orang-orang baik, insyaAllah. Lalu, apa benar dia yang akan menjadi jodohku?
Teringat pesan Ayah setahun sebelumnya yang tidak memberi lampu hijau untuk melangkah ke pelaminan sebelum studi ku beres. Namun, dikala Ibu sampaikan ceritaku ini kepada Ayah, tidak disangka, Ayah dan Ibu setuju membuka jalan.
"Kenalkan pada Ayah, toh sebentar lagi juga kau wisuda, tinggal ujian sidang kiprah selesai kan?".
Aku malu. Aku bingung. Sebab saya tidak pernah berniat mencari calon imamku di daerah ini. Aku sudah mencoba di tempat-tempat menurutku terbaik juga melalui orang-orang baik, insyaAllah. Lalu, apa benar dia yang akan menjadi jodohku?
Teringat pesan Ayah setahun sebelumnya yang tidak memberi lampu hijau untuk melangkah ke pelaminan sebelum studi ku beres. Namun, dikala Ibu sampaikan ceritaku ini kepada Ayah, tidak disangka, Ayah dan Ibu setuju membuka jalan.
"Kenalkan pada Ayah, toh sebentar lagi juga kau wisuda, tinggal ujian sidang kiprah selesai kan?".
Namun, pernyataan kedua orangtuaku tak menciptakan keputusanku bulat. Sholat sunnah Istikhoroh dua rakaat sudah ku lakukan bahkan jauh sebelum saya mengenal dirinya. Hmm, hatiku masih gundah. Menikah?
Tak lupa ku ceritakan pula pada seorang guru mengajiku. Seorang yang ku panggil "mbak". Beliau sudah ku anggap menyerupai kakakku sendiri. Meminta pendapat dan saran kepada nya. Sebaiknya apa yang harus saya lakukan? Kepada dia juga saya meminta tolong dicarikan jodoh yang sholeh. Dengan hadirnya sang abang kelas ini, apa boleh dilanjutkan? Galau adek mbak. Hahaha.
Selang beberapa waktu, niat baik sang abang dibalas dengan permintaan. Bismillah ya Allah.
Aku meminta dirinya untuk mengisi biodata lengkap. Dia pun jadinya meminta hal yang sama. Akhirnya kami saling bertukar biodata.
Sesuai dengan saran dari mbakku, juga keluargaku, kemudian ku telusuri tentangnya lebih jauh dari biodata ini.
Baca juga : Kata-kata Bijak perihal Cinta, Komunikasi, dan Hubungan
Dimulai dengan membuka media sosialnya. Bagaimana keluarganya. Asal usulnya. Bagaimana pergaulannya. Dengan siapa dia berteman. Semuanya. Setiap informasi yang dikumpulkan, selalu ku ceritakan dengan orang tuaku.
Aku mencoba membuka hati. Mencari tahu tentangnya. Memilih pasangan hidup bukan hal sembarangan. Melibatkan Allah dalam setiap langkah. Istikhoroh semakin ku giatkan.
Saat dia menanyakan kembali, bagaimana kelanjutan kisah ini. Aku memintanya mundur saja.
Aku ragu, bisakah kau menjadi imam yang baik untukku kelak? Namun, semakin keras ku menolakmu, semakin besar lengan berkuasa alasanmu untuk menjadi masa depanku.
Aku pun memberi nya satu syarat lainnya. Aku ingin mendengar bacaan Alquran mu. Aku ingin kau mengaji di depanku. Dan kau pun meminta waktu padaku. Mencari waktu yang sempurna untuk didengarkan.
Seiring waktu itu, banyak perubahan yang kau tunjukkan. Aku sempat kaget ketika ku dengar dari temanku, kisah perihal temanmu yang pada jadinya juga kembali membuka Al-Quran. Dan kisah dari temanmu, yang membuatku salut padamu.
Keberanianmu mengajak dalam kebaikan, berdiskusi tanpa menggurui, bahkan kau menempatkan dirimu sebagai pembelajar.
Hatiku menyerupai berbisik. Inikah saatnya? Terlebih ketika kembali kau tegaskan dalam tanya,
"Jadi, kapan abang sanggup bertemu Ayah adek"
Aku terkejut. Kau memang benar serius dalam niatmu.
Belum dua bulan semenjak kau menyapaku, di bulan suci Ramadhan ini
- supaya tercurah berkah dari Allah swt aamiin-
jadinya kau menemui Ayahku juga Ibuku. Kau kenalkan siapa dirimu, aktivitasmu dan tentu niat baikmu.
Ayah pun menjelaskan siapa saya dan segala kesibukanku. Diam-diam saya melirik, menyaksikan kesungguhanmu dalam meyakinkan Ayahku, bahwa kau sanggup memikul amanah yang selama ini menjadi tanggungjawab Ayahku.
Tentang studi kamu? Kita berdua meyakini, hitungan bulan kau akan diwisuda, meskipun saya selangkah lebih maju. Wisuda beda kloter.
Hehehe. Semangat!
Akhirnya, dengan tegas Ayah menerimamu. Disana ku lihat lisan lega mu dalam balutan lafazh hamdalah.
Alhamdulillah.
Kamu berjanji kepada Ayah akan membawa keluargamu untuk bersilaturahim lebih lanjut kepada keluarga kami selepas lebaran.
Selesai yang disampaikan, hati lega, pikiran melangkah untuk proses berikutnya. Niat baik yang disegerakan.
Kamu pun pamit pulang. Kau niscaya segera menelepon orang tuamu. Cihuy!
Baca juga : Kata Mutiara Bijak perihal Cinta dari Tokoh Dunia
Ramadhan ini, ramadhan terakhir bagi kita berstatus jomblo. Ramadhan ini, menjadi titik balik masing-masing dari kita untuk semakin mendekat pada-Nya.
Lagi, menyerupai doamu, kau ingin dipertemukan dengan jodoh yang sanggup menciptakan mu semakin erat pada Sang Pencipta. Aku pun begitu.
Siapa yang menyangka, keberanian mu mendekatiku, bermuara kepada keseriusan mu mengajukan niat baik kepadaku, kemudian memintaku pada Ayahku.
Pertemuan mu dan Ayahku, bertahap membuka gerbang untuk menuju - Kamu dan Aku menjadi KITA- hehehe.
Baca cerpen berikutnya ya : Cerpen Cinta "Prosesi Lamaran Yang Mendengarkan"
Baca cerpen berikutnya ya : Cerpen Cinta "Prosesi Lamaran Yang Mendengarkan"
Cerpen Cinta Prosesi Lamaran Yang Mendebarkan
Cerpen Terbaru Prosesi Lamaran yang Mendebarkan -- Cerita Dilamar & Lamaran, Acara Lamaran, Cerita Lamaran Pernikahan, Cerita Lamaranku, Cerita Lamaran Islami, Lamaran Sederhana.
Idul fitri tahun ini ialah lebaran dengan rasa yang berbeda. Tibalah waktunya saya menjadi sorotan sobat juga tetangga dalam balutan aneka pertanyaan.
"Mau menikah ya?"
"Kapan?"
"Sama siapa?"
"Calonnya kerja apa?"
Namun bagi ku, setiap pertanyaan tak harus diberi jawaban. Apalagi proses ini gres awalan. Bahkan saya belum bertemu dengan keluarga sang kakak.
Sebagian tetangga sudah mulai mencium aroma janur kuning ini. Hahaha. Ada di antara mereka yang melihat kedatanganmu ke rumahku. Saat kau bertemu dengan Ayahku
Kepada sobat terdekatku, sedikit-sedikit ku ceritakan bagaimana kisah awal pertemuan kami. Saat kali pertama kau menyapaku hingga niat mu menikahiku.
***
Hari itu pun tiba. Kau membawa keluargamu tiba ke rumahku. Hatiku berdebar ketika handphoneku berdering.
Ku baca isi pesan darimu.
"Kakak sudah dekat ke rumah adek"
Bergegas saya berlarian ke kamar, mengganti pakaian yang menurutku layak untuk pertemuan pertama keluarga kita.
Prosesi Lamaran?
Ku polesi wajahku dengan bedak bayi favoritku. Agak buru-buru. Dan sedikit pemerah bibir. Ya, sedikit. Sepertinya wajahku tampak pucat. Gugup mungkin. Hihihi.
Mendebarkan.
Kala satu per satu kaki turun dari kendaraan beroda empat yang berhenti di depan rumahku. Setiap mereka memegang bebawaan yang berbeda.
Keluargaku menyambut kedatangan keluargamu. Ayah, Ibu, saudara dan juga keponakanku ikut menunggu di depan pintu.
"Silahkan masuk", sambut Ayah dengan senyum ramah khas nya sambil bersalaman satu per satu.
Aku pun menyusul menyambut di ruang tamu sembari mempersilahkan duduk. Entah mengapa, menurutku pada hari itu, kau tampil beda, kok ganteng ya! Hehehe.
Lalu kau perkenalkan satu per satu siapa saja yang tiba mendampingimu.
Bapak dan Mamak juga Adik bungsumu.
Tak lupa diceritakan bahwa kau yaitu putra pertama dari tiga bersaudara namun adik bujangmu tidak turut hadir.
Lalu seorang kakek yang kau sebut sebagai, Pak Kolot.
Serta dua orang Mamang (Paman) yang merupakan adik kandung dari Ibumu.
Begitulah. Pertemuan hari itu diawali dengan saling memperkenalkan keluarga masing-masing. Menyebutkan asal-usul kawasan tanah kelahiran.
Obrolan berlangsung santai. Sembari merasakan masakan buatanku. Ya, hasil masakanku. Makanan khas kota Palembang, aneka pempek dihidangkan. Juga buah-buahan seadanya. Pisang rebus dan beberapa iris pepaya.
Hari yang terik membuatku diminta menciptakan minuman yang elok dan dingin. Ah, ku fikir air mineral dari lemari pendingin sudah cukup menghilangkan dahaga. Tapi Ayah memintaku untuk menciptakan es teh.
Aku yaitu orang yang tidak biasa menciptakan minuman manis. Ditambah lagi rasa gugup ini. Bagaimana ini? Haduh.
Mulailah ku seduh teh nya. Ku beri gula beberapa sendok. Ku cicipi sedikit. Hmm, belum manis. Ku tambahkan gula agak banyak, alasannya yaitu ku pikir akan minum pakai es, artinya saya harus menciptakan teh yang lebih manis.
Ya sudah. Yakin saja. Sepertinya cukup. Lalu ku pindahkan ke wadah yang lebih besar. Wadah yang sudah kuiisi dengan es batu.
Ku sajikan kepada tamu. Entahlah.
"Ini teh apa air gula?", komentar Ayuk ku.
Ayuk yaitu panggilan untuk abang perempuanku.
Ku harap mereka maklum. Aku gugup. Es teh ini memecah suasana. Kemanisan. Aku jadi malu. Hiks. Hiks.
Sudahlah, lupakan es teh. Biarlah menjadi kenangan elok saja. Mari kita kembali ke dongeng prosesi lamaran yang mendebarkan.
Seorang mamang yang tampaknya ditunjuk mewakili keluargamu untuk menjadi juru bicara, memberikan maksud dan tujuan ke rumahku ini.
"Kami mewakili ananda kami, ingin memberikan niat kami untuk melamar putri Bapak.", kata Mamangnya.
Sebaris kalimat yang menciptakan ku semakin berdebar. Tak sabar menunggu tanggapan dari Ayah.
"Ya, intinya kami setuju. Di pertemuan sebelumnya, saya sudah berbicara banyak dengan ananda. Kita mendukung saja, apalagi ini niat baik, ya harus disegerakan.", jawab Ayah dengan santai namun serius.
"Tentang mahar dan biaya-biaya lainnya bagaimana Pak?", tanya Mamang.
"Sepertinya hal itu sudah disepakati oleh mereka dua, kita menuntunnya saja", kata Ayah.
Memang, setelah pertemuan sang abang dengan Ayah di Ramadhan waktu itu, kami berdua sudah mulai sedikit membahas soal mahar dan berapa kisaran biaya yang harus dipersiapkan.
"Bagaimana, Kang?", tanya Mamang pada Kakak seolah mempertanyakan kesanggupannya. Kamu pun menganggukkan kepala dengan yakin.
Sedang saya mempasrahkan semua kepada Allah. Pertemuan hari ini membuatku terkadang tertunduk malu, terkadang harus mengangkat kepala dan memberi senyuman.
Sekali-kali ku tatap wajah-wajah di depanku. Calon suami. Calon mertua. Calon saudara. Calon keluarga. Calon tempat gres ku untuk berbakti. Menikah?
Kedua keluarga sepakat untuk menjadi keluarga baru. Lalu gotong royong memilih kapan ketika yang sempurna untuk pelaksanaan janji dan resepsi.
Keluargamu pun meminta untuk juga diadakan pesta di desamu. Seperti sopan santun kebiasaan di daerahmu, ngunduh mantu.
Hari dan tanggal sudah disepakati. Tepat pada 1 Muharram tahun gres hijriah menjadi pilihan kita, menjadi catatan sejarah hari senang kita. Hari itu akan tiba hanya dalam dua bulan setelah hari prosesi lamaran yang mendebarkan ini.
Dan satu bulan sesudahnya, saya akan dibawa ke desamu, ngunduh mantu. Tentu juga bersama keluargaku.
Waktu hampir memperlihatkan pukul 11.30. Kedua keluarga sudah saling mengenal. Tanggal bersejarah juga sudah ditetapkan. Suasana dekat tergambarkan dalam silaturahim hari ini.
Lalu Ayah memberikan untuk santap siang bersama. Menu siang itu juga masakanku, yang lagi-lagi berdasarkan lidahku rasanya enak. Ada soto ayam, ikan seluang yang digoreng renyah, tahu tempe goreng, sambal tomat juga lalapan.
Agaknya memang rasanya tidak se-aneh es teh. Aman. Hahaha.
Alhamdulillah. Perut kenyang, hati tenang.
Seusai santap siang, keluargamu berpamitan pulang sekaligus izin untuk malamnya eksklusif berangkat pulang lagi ke kampung. Itu artinya, saya dan keluargamu akan bertemu lagi dua bulan kemudian, mendekati hari senang itu.
Aku dan kamu? Kita banyak kiprah yang harus diselesaikan. Tentang persiapan ujian final kuliahmu. Juga persiapan hari janji nikah kita. Dan lebaran kali ini, ternyata pulang kampung terakhirmu sebagai jomblo. Hehehe.
Tak lupa, sebelum pulang, kami pun membawakan oleh-oleh untuk keluargamu. Mungkin dapat dinikmati di perjalanan atau untuk setiba nya di kampung nanti.
Alhamdulillah, usai juga proses lamaran yang mendebarkan ini. Satu per satu kita melangkah menuju Kau dan Aku menjadi KITA
Hehehe.
Selanjutnya yaitu persiapan pernikahan. Doa dan keinginan selalu dipanjatkan supaya rencana kita berjalan lancar. Semakin mendekati hari H, sholat sunnah istikhoroh pun semakin sering dilakukan.
Aku menikah?
Hehehe.
Langganan:
Postingan (Atom)







