- Menjelaskan pengertian definisi ontologi.
- Menidentifikasi objek kajian ontologi.
- Menjelaskan aliran dalam metafisika ontologi.
- Menjelaskan teologi
- Menjelaskan landasan ontologi pancasila.
renovasibangunan99.blogspot.com
Kabar Gembira Buat kamu yang ga sengaja kunjungi Blog ini !!!
jarang-jarang kamu bisa nemuin Harga SOUVENIR se Murahini..
karena ini kami buat sengaja buat kamu yang ga sengaja berkunjung ke Blog kami dengan ulasan kami selain dari ulasan souvenir ☺️☺️☺️☺️
Nah buat kamu yang tertarik dengan Harga-harga souvenir kami, bisa langsung hubungi whatsapp kami di 081296650889 atau 081382658900
caranya screenshoot atau sertakan link url souvenir yang kamu minati pada blog ini, kirimkan kepada kami di nomer yang sudah tertera dia atas↑↑
tanpa screenshoot atau link blog kami, kemungkinan kami akan memberikan harga jual yang ada pada toko kami yang cenderung lebih tinggi tentunya
Tampilkan postingan dengan label Makalah. Tampilkan semua postingan
Tampilkan postingan dengan label Makalah. Tampilkan semua postingan
Kamis, 28 Maret 2019
Makalah Filsafat Ilmu : Ontologi Pengetahuan -- Ilmu Pengetahuan, Pengertian Ontologi dan Contohnya, Contoh Makalah Ontologi Pengetahuan, Filsafat Ilmu : Ontologi Pengetahuan, Pembahasan Ontologi Ilmu Pengetahuan, Pembahasan Materi Ontologi Filsafat pdf.
Disini admin akan membagikan pengetahuan melalui Makalah Filsafat Ilmu : Ontologi Pengetahuan untuk kalian yang membutuhkan. Silahkan dibaca dan pahami di bawah ini.
A. Pendahuluan
Filsafat yakni telaahan yang ingin menjawab berbgai problem secara mendalam perihal hakikat sesuatu atau dengan kata lain filsafat yakni perjuangan untuk mengetahui sesuatu.
Secara umum bidang kajian filsafat cukup luas dan meliputi banyak sekali jenis bidang kajian. Menurut Arifin dalam susanto (2010) ruang lingkup kajian filsafat meliputi banyak sekali bidang yaitu: (1) kosmologi (2) ontologi: (3). Phyilosophy of mind; (4) efistemologi; (5) aksiologi.
Pada mulanya ontologi dan metafisika yakni satu, yaitu dibahas dalam kajian metafisika. Kemudian pada para filusuf membedakan antara metafisika dan ontologi pada pemilihan kajian atau objek yang ditelaah.
Prof. B. Delggaaauw membedakan antar ontologi dan metafisika melihat dari objeknya. Objek yang bisa ditangkap dengan panca indra termasuk perkara ontologi, sedangkan objek yang tidak sanggup ditangkap dengan panca indra termasuk bidang metafisika. Ontologi secara ringkas membahas realitas atau suatu entitas dengan apa adanya. Pembahasan mengenai ontologi berarti membahas kebenaran suatu fakta. Untuk mendapat kebenaran itu, ontologi memerlukan proses bagaimana ralitas tersebut sanggup diakui kebenarannya. Untuk itu proses tersebut memerlukan dasar contoh berfikir, dan contoh berfikir didasarkan bagaimana ilmu pengetahuan dipakai sebagai dasar pembahasan realitas.
Sementara itu klarifikasi deskriptif mengenai ontologi sebagaimana akan diuraikan perihal bidang kajian filsafat ontologi, meliputi definisi ontologi, objek kajian ontologi, aliran-aliran dalam metafisika ontologi, teologi dan landasan ontologi pancasila.
Setelah mempelajari makalah ini, diperlukan dapat:
B. Pembahasan
1. Definisi Ontologi
Ontologi yakni perjuangan sadar untuk mengenal perihal hakekat yang berada. Menurut Susanto (2010) Ontologi merupakan cabang teori hakikat yang membicarakan hakikat sesuatu yang ada. Istilah ontology berasal dari bahasa Yunani, yaitu taonta yang berarti ‘yang berada’, dan logos berarti ilmu pengetahuan atau ajaran. Dengan demikian, ontologi berarti ilmu pengetahuan atau aliran perihal yang berada.
Pembahasan perihal ontologi sebagai dasar ilmu berusaha untuk menjawab “apa” yang berdasarkan Aristoteles merupakan the firs filosophy dan merupakan ilmu mengenai esensi benda. Kata ontologi berasal dari perkataan Yunani ‘on’ sama dengan being, dan ‘ logos ‘ sama dengan logic. Jadi, ontologi yakni the theory of being qua being (teori perihal keberadaan sebagai keberadaan). Ontologi memeriksa sifat dasar dari apa yang konkret secara mendasar dan cara yang berbeda dimana entitas dari kategori-kategori yang logis, yang berlainan sanggup dikatakan ada; dalam kerangka tradisional ontologi dianggap sebagai teori mengenai prinsip-prinsip umum dari hal ada, sedangkan dalam hal pemakaiannya akhir-akhir ini ontologi dipandang sebagai teori mengenai apa yang ada.
Term ontologi pertama kali diperkenalkan oleh Rudolf Goclenius pada tahun 1936 M. untuk menemani teori perihal hakikat yang ada yang bersifat metafisis. Dalam perkembangannya Christian Wolff dalam Susanto (2010) menjadi metafisika menjadi dua, yaitu metafisika umum dan metafisika khusus. Metafisika umum dimaksudkan sebagai istilah lain dari ontologi.
Dengan demikian, metafisiska umum atau ontologi yakni cabang filsafat yang membicarakan prinsip paling dasar atau paling dalam dari segala sesuatu yang ada. Sedangkan metafisika khusus masih dibagi lagi menjadi kosmologi, psikologi, dan teologi. Kosmologi yakni cabang filsafat yang secara khusus membicarakan perihal alam semesta. Psikologi yakni cabang filsafat secara khusus membicarakan perihal jiawa manusia. Teologi yakni cabang filsafat yang secara khususmembicarakan tuhan.
2. Objek Kajian Ontologi
Objek telaahan ontologi adalah yang ada, yaitu ada individu, ada umum, ada terbatas, ada tidak terbatas, ada universal, ada mutlak, termasuk kosmologi dan metafisika dan ada sehabis maut maupun sumber segala yang ada, yaitu Tuhan Yang Maha Esa, pencipta dan pengatur serta penentu alam semesta.
Objek formal ontologi yakni hakikat seluruh realitas. Bagi pendekatan kualitatif, realitas tampil dalam kuantitas atau jumlah, telaahannya akan menjadi telaah monise, paralelisme, atau pluralisme. Bagi pendekatan kualitatif realitas akan tampil menjadi aliran aliran materialism, idea-lisme, naturalism, dan hilomorphisme.
3. Aliran-Aliran dalam Metafisika Ontologi
Ontologi atau potongan metafisika yang umum, membahas segala sesuatu yang ada secara menyeluruh yang mengkaji persoalan-persoalan, ibarat hubungan logika dengan benda, hakikat perubahan, pengertian perihal kebebasan, dan lainnya.
Menurut Susanto (2010) didalam pemahaman atau pemikiran ontologi sanggup ditemukan pandangan-pandangan pokok pemikiran sebagai berikut:
a. Aliran Monoisme
Paham monoisme menganggap bahwa hakikat yang asal dari seluruh kenyataan itu hanyalah satu saja, mustahil dua. Haruslah satu saja sebagai sumber asal. Baik yang asal berupa materi maupun rohani. Tidak mungkin ada hakikat masing-masing bebas dan bangkit sendiri. Paham monoisme terbagi menjadi dua aliran, yaitu aliran materialism dan aliran idealisme. Aliran materialism menganggap bahwa sumber yang asal itu yakni materi, bukan rohani. Aliran ini sering juga disebut aliran naruralisme. Menurutnya bahwa zat mati merupakan kenyataan dan satu-satunya cara tertentu.sedangkan aliran idealisme dinamakan juga spiritualisme. Aliran idealisme beranggapan bahwa hakikat kenyataan yang beraneka raga mini semua berasal dari ruh, yaitu sesuatu yang tidak berbentuk dan menempati ruang. Materi atau zai itu hanyalah suatu jenis dari penjelmaan ruhani.
b. Aliran Dualisme
Aliran dualisme yakni aliran yang mencoba memadukan antara dua paham yang saling bertentangan, yaitu materialisme dan idealisme. Menurut aliran dualism, materi maupun ruh sama-sama merupakan hakikat. Materi muncul bukan lantaran adanya ruh, begitupun ruh muncul bukan lantaran adanya materi.
c. Aliran Pluralisme
Paham pluralisme berpandangan bahwa segenap macam bentuk merupakan kenyataan. Pluralisme bertolak dari keseluruhan dan mengakui bahwa segenap macam bentuk itu semuanya nyata. Pluralisme sebagai paham yang menyatakan bahwa kenyataan ala mini tersusun dari banyak unsure, lebih dari satu atau dua entitas.
d. Aliran Nikhilisme
Paham nikhilisme menyatakan bahwa dunia terbuka untuk kebebasan dan kreativitas manusia. Aliran ini tidak mengakui validitas alternative positif. Dalam pandangan nikhilisme, Tuhan sudah mati. Manusia bebas berkehendak dan beraktivitas.
e. Aliran Agnotisisme
Aliran agnotisisme menganut paham bahwa insan mustahil mengetahui hakikat sesuatu dibalik kenyataannya. Manusia mustahil mengetahui hakikat batu, air, api, dan sebagainya. Sebab berdasarkan aliran ini kemampuan insan sangat terbatas dan mustahil tahu apa hakikat sesuatu yang ada, baik oleh indranya maupun oleh pikirannya. Paham agnotisisme mengingkari kesanggupan insan untuk mengetahui hakikat benda, baik hakikat materi, maupun hakikat ruhani.
4. Teologi
Teologi juga merupakan potongan dari kajian bidang ontologi. Istilah teologi mempunyai pengertian yang sangat luas dan beragam. Dalam kamus teologi, dijelaskan bahwa teologi dalam bahasa Yunani artinya pengetahuan mengenai Allah, yaitu perjuangan metodis untuk memahami serta menafsirkan kebenaran wahyu O’Collins dalam Susanto (2010). Dalam bahasa latin, teologi diartikan ‘ilmu yang mencari pemahaman’, maksudnya dengan memakai sumber daya rasio, khususnya ilmu sejarah dan filsafat, teologi selalu mencari dan tidak pernah hingga pada balasan terakhir dan pemahaman yang selesai.
5. Landasan Ontologi Pancasila
Atas dasar pengertian ontologi, pandangan ontologi dari pancasila yakni Tuhan, manusia, satu, rakyat, dan adil (Damarjati dalam Susanto, 2010).
Tuhan yakni alasannya yakni pertama dari segala sesuatu, yang esa dan segala sesuatu tergantung kepadanya. Manusia mempunyai susunan hakikat langsung yang monoprularis, yakni bertubuh / berjiwa, bersift individu / makhluk social, berkedudukan sebagai peribadi bangkit sendiri/makhluk Tuhan yang mengakibatkan kebutuhan kejiwan dan religious, yang seharusnya secara gotong royong dipelihara dengan baik dalam kesatuan yang seimbang, harmonis, dan dinamis.
Satu secara mutlak tidak sanggup terbagi, rakyat yakni keseluruhan jumlah semua orang, warga dalam lingkungan tempat atau Negara tertentu. Hakikat rakyat yakni pilar Negara dan yang berdaulat. Adil ialah dipenuhinya sebagai wajib segala sesuatu yang merupakan hak dalam hubungan hidup kemanusiaan yang meliputi hubungan antara Negara dengan warga Negara, hubungan warga Negara dengan Negara, dan hubungan antarsesama warga Negara.
C. Penutup
Dari pemaparan diatas maka sanggup disimpulkan bahwa, ontologi yakni cabang filsafat yang membicarakan prinsip paling dasar atau paling dalamdari segala sesuatu yang ada.
Objek kajian ontologi terdiri dari objek telaah ontologi, dan objek formal ontologi, dengan tiga kajian ontologi melalui metode dalam ontologi yang member tiga tingkatan abstraksi dalam ontologi, yaitu: (1) abstraksi fisik; (2) abstraksi bentuk; (3) abstraksi metafisik.
Kajian metafisika ontologi didalamfilsafat ilmu memeriksa segala kemungkinan dan kenyataan yang terjadi dan kajian. Kajian perkiraan bahwa fisafat ilmu erat kaitannya dengan pengkajian analisis konsep, dan bahwa yang digunakannya dan juga ekspansi serta penyusunan cara-cara yang lebih dan lebih sempurna untuk memperoleh pengetahuan.
Aliran-aliran dalam metafisika ontologi yakni aliran monoisme yang terbagi menjadi dua aliran, yaitu aliran materialisme dan aliran idealisme, aliran dualisme, aliran pluralisme, aliran nikhilisme dan aliran agnotisisme.
Teologi merupakan potongan dari kajian bidang ontologi dalam bahasa teologi diartikan ilmu yang membagi pemahaman
Landasan ontologi pancasila mempelajari keberadaan dalam bentuk yang paling. Dari pancasila yakni Tuhan, manusia, satu, rakyat dan adil.
Daftar Pustaka :
Susanto. 2010. Filsafat Ilmu. Jakarta: Bumi aksara.
Surajiyo. 2007. Filsafat Ilmu. Jakarta: Bumi aksara.
Itulah Makalah Filsafat Ilmu perihal Ontologi Pengetahuan yang sanggup admin bagikan. Semoga bermanfaat untuk kalian. Selanjutnya baca : Makalah Filsafat Ilmu : Epistimologi Pengetahuan
Makalah Filsafat Ilmu : Epistimologi Pengetahuan
Makalah Filsafat Ilmu : Epistimologi Pengetahuan -- Pengertian Epistimologi dan Contohnya, Contoh Makalah Epistimologi Pengetahuan, Filsafat Ilmu : Epistimologi Pengetahuan, Pembahasan Epistimologi Ilmu Pengetahuan, Pembahasan Materi Epistimologi Filsafat, Epistimologi Filsafat pdf.
Kali ini admin akan mengembangkan pengetahuan seputar filsafat ilmu yang terangkum dalam Makalah Filsafat Ilmu : Epistimologi Pengetahuan. Makalah yang dsampaikan ini merupakan kelanjutan dari makalah sebelumnya yang berjudul "Makalah Filsafat Ilmu : Ontoologi Pengetahuan". Langsung saja pahami pembahasan selengkapnya di bawah ini.
Kali ini admin akan mengembangkan pengetahuan seputar filsafat ilmu yang terangkum dalam Makalah Filsafat Ilmu : Epistimologi Pengetahuan. Makalah yang dsampaikan ini merupakan kelanjutan dari makalah sebelumnya yang berjudul "Makalah Filsafat Ilmu : Ontoologi Pengetahuan". Langsung saja pahami pembahasan selengkapnya di bawah ini.
BAB I PENDAHULUAN
Manusia intinya yaitu makhluk pencari kebenaran. Manusia tidak pernah puas dengan apa yang sudah ada, tetapi selalu mencari dan mencari kebenaran yang gotong royong dengan bertanya-tanya untuk mendapat jawaban. Namun setiap jawaban-jawaban tersebut juga tidak selalu memuaskan manusia.
Pengetahuan merupakan khasanah kekayaan mental yang secara eksklusif atau tak eksklusif turut memperkaya kehidupan kita. Sukar untuk dibayangkan bagaimana kehidupan insan seandainya pengetahuan itu tak ada, alasannya yaitu pengetahuan merupakan sumber balasan bagi banyak sekali pertanyaan yang muncul dalam kehidupan. Tiap jenis pengetahuan intinya menjawab jenis pertanyaan tertentu yang diajukan. Oleh alasannya yaitu itu semoga kita sanggup memanfaatkan segenap pengetahuan kita secara maksimal maka harus kita ketahui balasan apa saja yang mungkin bisa diberikan oleh suatu pengetahuan tertentu. Atau dengan kata lain, perlu kita ketahui kepada pengetahuan mana suatu pertanyaan tertentu harus kita ejekan (Suriasumantri, 2007: 104-105)
Jadi, pada hakikatnya kita mengharapkan balasan yang benar, dan bukannya sekedar balasan yang bersifat sembarang saja. Lalu timbullah masalah, bagaimana cara kita menyusun pengetahuan yang benar? Masalah inilah yang dalam kajian filsafat disebut epistemologi dan landasan epistemologi ilmu disebut metode ilmiah.
BAB II PEMBAHASAN
2.1 Pengertian Epistemologi
Istilah epistemologi berasal dari bahasa Yunani, yang terdiridari dua kata, yaitu epistemeyang berarti pengetahuan, dan logos, yang berarti pikiran, teori atau ilmu. Jadi, epistemologi berarti pikiran atau teori wacana pengetahuan atau ilmu pengetahuan. Istilah lain juga biasa digunakan, yaitu teori pengetahuan (theory of knowledge) atau filsafat pengetahuan (philosophy of knowledge) (Susanto, 2011:136).
Epistemologi merupakan pembahasan mengenai bagaimana kita mendapat pengetahuan: Apakah sumber-sumber pengetahuan? Apakah hakikat, jangkauan dan ruang lingkup pengetahuan? Apakah insan dimungkinkan untuk mendapat pengetahuan? Sampai tahap mana pengetahuan yang mungkin untuk ditangkap insan (William S. Sahakian dan Mabel Lewis Sahakian, 1965 dalam Suriasumantri, 2007:119).
Menurut Surajiyo (2010:26), epistemologi yaitu penggalan filsafat yang membicarakan wacana terjadinya pengetahuan, sumber pengetahuan, asal mula pengetahuan, batas-batas, sifat, metode, dan kesahihan pengetahuan. Dan berdasarkan Pidarta (2009:77) epistemologi ialah filsafat yang membahas wacana pengetahuan dan kebenaran.
Dari banyak sekali pendapat jago di atas sanggup disimpulkan dengan bahasa sederhana epistemologi merupakan cara mendapat pengetahuan yang benar.
2.2 Jarum Sejarah Pengetahuan
Sejarah pengetahuan berjalan sejalan dengan perkembangan fatwa manusia. Dengan mengetahui sejarah akan pengetahuan, kita akan dibantu bagaimana memutuskan suatu metode untuk memperoleh pengetahuan yang benar nantinya. Secara garis besar, sejarah pengetahuan terbagi menjadi tiga fase, yaitu :
a. Pengetahuan kurun primitif
Pada kurun primitif insan sudah mulai mengenal dengan yang namanya pengetahuan. Mereka menfungsikan pengetahuan tersebut sebagai alat dan cara mereka untuk menuntaskan duduk kasus yang terjadi disekitar mereka. Akan tetapi, pada kurun ini pengetahuan masih berupa satu kesatuan yang bulat. Tidak adanya pengklasifikasian antara suatu pengetahuan tertentu dengan pengetahuan yang lainnya. Akibatnya, pada masa itu, seorang yang dianggap bisa dibidang kedokteran, beliau juga akan dianggap bisa dibidang pertanian, keagamaan, pemerintahan dan lainnya. Seorang pemimpin pada masa itu yaitu mereka yang jago atau pakar dalam seluruh aspek kehidupan masyarakat yang berada dibawah kepemimpinanya.
b. Pengetahuan kurun penalaran (age of reason)
Pada kurun ini insan telah mengalami perkembangan fatwa yang cukup pesat setelah terlewatnya masamasa fatwa primitif. Pada kurun ini insan mulai melaksanakan pembedaan pembedaan antara satu pengetahuan dengan pengetahuan yang lainnya. Mereka membedakan pengetahuan pengetahuan tersebut dalam wadahnya yang terpisah. Artinya, antara satu pengetahuan dengan pengetahuan yang lainnya mempunyai ranahnya masing masing untuk dikaji. Tidak ada hubungan antara satu pengetahuan dengan pengetahuan yang lainnya dalam rangka menuntaskan suatu masalah. Metode yang berkembangpun antara satu pengetahuan dengan pengetahuan yang lainnya sangat berbeda. Intinya, pada masa ini pengetahuan mengalami diferensiasi dan mempunyai ranahnya masing masing tanpa berafiliasi atau berkait dengan pengetahuan lainnya.
c. Pengetahuan kurun modern
Fase terakhir ini yaitu fase pengetahuan yang masih berlaku hingga kini ini. Manusia mulai menggabungkan antara metode primitif dengan metode yang dipakai oleh insan masa penalaran. Dengan penggabungan dua cara tersebut, munculah metode inter-disipliner dalam pengetahuan. Tidak menyerupai metode yang dipergunakan pada masa penalaran, masa ini, pengetahuan lebih diperlakukan sebagai suatu rangkaian penyelesaian duduk kasus yang berkaitan antara satu pengetahuan dengan pengetahuan yang lainnya. Artinya, wilayah antara satu pengetahuan dengan pengetahuan yang lainnya tetap dibedakan untuk kajian telaahnya. Akan tetapi, dalam kiprahnya sebagai alat untuk menuntaskan duduk kasus yang dihadapi manusia, pengetahun mempunyai semacam ikatan yang akrab antara satu wilayah kajian keilmuan dengan yang lain. Demikianlah jarum sejarah perjalanan pengetahuan dalam kiprahnya sebagai alat untuk menuntaskan permasalahan-permasalahan insan yang terjadi pada kehidupan sehari hari.
2.3 Pengetahuan
Sama menyerupai sejarah pada perkembangan pengetahuan dari masa ke masa, metode epistemologi juga berkembang seiring dengan berkembangnya cara berpikir manusia. Dimulai dengan nenek moyang kita yang hidup di masa-masa purba yang mana masih sangat primitif. Usaha mereka dalam mendapat pengetahuan yang benar terutama dalam penafsiran dan memahami alam yaitu dengan meletakkan tuhan dewa pada setiap tanda-tanda yang terjadi di alamini. Hujan deras yang merusak menandakan bahwa tuhan hujan sedang dalam keadaan badmood. Entah itu lantaran insan yang lupa memberikannya sesajen atau beliau sedang ada duduk kasus dengan tuhan lainnya.
Tahap selanjutnya yaitu masa dimana insan mulai berusaha untuk melepas belenggu mitos dalam setiap tanda-tanda alam yang mereka rasakan dan mereka lihat. Dari perjuangan ini berkembanglah epistemologicommon sense dan trial-and-error. Ada dua ciri dari epistemologi insan zaman ini untuk mendapat pengetahuan yang benar. Yang pertama dengan memakai common sense atau kebijaksanaan sehat. Pada tahap ini mereka mulai memakai kebijaksanaan mereka untuk menafsirkan alam dengan melepas belenggu belenggu mitos yang diwariskan generasi sebelumnya. Kedua yaitu dengan trial-and-error yaitu metode praktek lapangan dengan mencoba-coba. Artinya sebelum mengkaji wacana tentang sesuatu mereka masih belum dibekali dengan suatu teori wacana hal tersebut. Yang ada hanyalah bekal kebijaksanaan yang sehat dan keberanian untuk mencoba-coba. Akibatnya sistem epistemologi menyerupai ini tidaklah mendatangkan sebuah pengetahuan yang benar akan objek yang dikaji.
Contoh : ketika Copernicus menyampaikan bahwa bumilah yang mengelilingi matahari. Masyarakat setempat tidak mempercayainya. Sebab, berdasarkan kebijaksanaan budi mereka mataharilah yang mengelilingi bumi. Jadi, kebijaksanaan budi selamanya tidak selalu memperlihatkan kebenaran. Akan tetapi, epistemology menyerupai ini berperan penting dalam perjuangan insan untuk menemukan klarifikasi mengenai banyak sekali tanda-tanda alam.
Contoh : ketika Copernicus menyampaikan bahwa bumilah yang mengelilingi matahari. Masyarakat setempat tidak mempercayainya. Sebab, berdasarkan kebijaksanaan budi mereka mataharilah yang mengelilingi bumi. Jadi, kebijaksanaan budi selamanya tidak selalu memperlihatkan kebenaran. Akan tetapi, epistemology menyerupai ini berperan penting dalam perjuangan insan untuk menemukan klarifikasi mengenai banyak sekali tanda-tanda alam.
Dilanjutkan dengan tumbuh rasionalisme untuk merontokkan dasar dasar pikiran yang masih bersifat mitos. Lalu, lantaran adanya beberapa kelemahan pada metode menyerupai ini, berkembanglah empirisme. Sama menyerupai rasionalisme, empirisme juga terdapat celah-celah dalam metode inovasi kebenarannya.
Selanjutnya, munculah metode eksperimen yang menengahi antara merode rasionalisme dan empirisme. Bagaimana kita mendapat pengetahuan yang benar? Yaitu dengan mengadakan penjelasan-penjelasan teoritis dalam ranah rasio dan melaksanakan pembuktian pembuktian dalam ranah empiris. Inilah yang disebut dengan metode eksperimen yang menjembatani antara rasionalisme dan empirisme. Konsep epistemologi ini dikembangkan para sarjana muslim ketika masa keemasan islam dan dimasyarakatkan oleh Francis Bacon. Dari metode eksperimen inilah nanti timbul “metode ilmiah” yang menggabungkan antara cara berpikir deduktif dan cara berpikir induktif.
2.4 Metode Ilmiah
Kata metode berasal dari kata Yunani methodos, sambungan kata depan meta (menuju, melalui, mengikuti, sesudah) dan kata benda hodos (jalan, perjalanan, cara, arah) kata methodos sendiri kemudian berarti penelitian, metode ilmiah, hipotesis ilmiah, uraian ilmiah.
Metode ilmiah merupakan mekanisme dalam mendapat pengetahuan yang disebut ilmu. Makara ilmu merupakan pengetahuan yang didapatkan lewat metode ilmiah. Tidak semua pengetahuan sanggup disebut ilmu alasannya yaitu ilmu merupakan pengetahuan yang cara mendapatkannya harus memenuhi syarat-syarat tertentu. Syarat-syarat yang harus dipenuhi semoga suatu pengetahuan sanggup disebut ilmu tercantum dalam apa yang dinamakan dengan metode ilmiah (Suriasumantri, 2007:119).
Alur berpikir yang tercakup dalam metode ilmiah sanggup dijabarkan dalam beberapa langkah yang mencerminkan tahap-tahap dalam aktivitas ilmiah. Kerangka berpikir ilmiah yang berintikan proses logico-hypothetico-verifikasi ini intinya terdiri dari langkah-langkah sebagai berikut:
1. Perumusan duduk kasus yang merupakan pertanyaan mengenai obyek empiris yang terang batas-batasnya serta sanggup diidentifikasikan faktor-faktor yang terkait di dalamnya;
2. Penyusunan kerangka berpikir dalam pengajuan hipotesis yang merupakan argumentasi yang menjelaskan hubungan yang mungkin terdapat antara banyak sekali faktor yang saling mengkait dan membentuk konstelasi permasalahan. Kerangka berpikir ini disusun secara rasional berdasarkan premis-premis ilmiah yang telah teruji kebenarannya dengan memperhatikan faktor-faktor empiris yang relevan dengan permasalahan;
3. Perumusan hipotesis yang merupakan balasan sementara atau dugaan terhadap pertanyaan yang diajukan yang materinya merupakan kesimpulan dari kerangka berpikir yang dikembangkan;
4. Pengujian hipotesis yang merupakan pengumpulan fakta-fakta ynag relevan dengan hipotesis yang diajukan untuk memperlihatkan apakah terdapat fakta-fakta yang mendukung hipotesis tersebut atau tidak;
5. Penarikan kesimpulan yang merupakan evaluasi apakah sebuah hipotesis yang diajukan itu ditolak atau diterima. Sekiranya dalam pengujian terdapat fakta yang cukup yang mendukung hipotesis maka hipotesis itu diterima. Sebaliknya sekiranya dalam proses pengujian tidak tedapat fakta yang cukup mendukung hipotesis maka hipotesis itu ditolak. Hipotesis yang diterimakemudian dianggap menjadi penggalan dari pengetahuan ilmiah alasannya yaitu telah memenuhi persyaratan keilmuan yakni mempunyai kerangka klarifikasi yang konsisiten dengan pengetahuan ilmiah sebelumnya serta telah teruji kebenarannya. Pengertian kebenaran di sini harus ditafsirkan secara pragmatis artinya bahwa hingga ketika ini belum terdapat fakta yang menyatakan sebaliknya.
Metode Ilmiah ini tidak sanggup dipakai pada pengetahuan yang tidak termasuk kedalam kelompok ilmu, misalnya matematika dan bahasa tidak mempergunakan metode ilmiah dalam penyusunan pengetahuannya, lantaran matematika hanyalah pengetahuan yang menjadi sarana dalam berfikir ilmiah. bagitu juga halnya dengan bidang sastra yang termasuk kedalam humoniora yang terang tidak mempergunakan metode ilmiah dalam penyusunan badan pengetahunnya.
2.5 Struktur Pengetahuan Ilmiah
Pengetahuan yang diproses berdasarkan metode ilmiah merupakan pengetahuan yang memenuhi syarat-syarat keilmuan, dan dengan demikian sanggup disebut pengetahuan ilmiah atau ilmu. Ilmu intinya merupakan kumpulan pengetahuan yang bersifat menjelaskan banyak sekali tanda-tanda alam yang memungkinkan insan melaksanakan serangkaian tindakan untuk menguasai tanda-tanda tersebut berdasarkan klarifikasi yang ada. Penjelasan keilmuan memungkinkan kita meramalkan apa yang akan terjadi dan berdasarkan ramalan tersebut kita bisa melaksanakan upaya untuk mengontrol semoga ramalan itu menjadi kenyataan atau tidak. Makara pengetahuan ilmiah pada hakikatnya mempunyai tiga fungsi, yakni menjelaskan, meramalkan dan mengontrol.
Secara garis besar terdapat empat jenis pola klarifikasi yakni deduktif, probabilistik, fungsional atau teleologis, dan genetik (Ernest Nagel, 1961, dalam Suriasumantri, 2007:142).
1. Penjelasan deduktif mempergunakan cara berpikir deduktif dalam menjelaskan suatu tanda-tanda dengan menarik kesimpulan secara logis dari premis-premis yang telah ditetapkan sebelumnya.
2. Penjelasan probabilistik merupakan klarifikasi yang ditarik secara induktif dari sejumlah masalah yang dengan demikian tidak memperlihatkan kepastian menyerupai klarifikasi deduktif melainkan klarifikasi yang bersifat peluang menyerupai “kemungkinan”, ‘kemungkinan besar” atau “hampir sanggup dipastikan”.
3. Penjelasan fungsional atau teleologis merupakan klarifikasi yang meletakkan sebuah unsur dalam kaitannya dengan sistem secara keseluruhan yang mempunyai karakteristik atau arah perkembangan tertentu.
4. Penjelasan genetik mempergunakan faktor-faktor yang timbul sebelumnya dalam menjelaskan tanda-tanda yang muncul kemudian.
Struktur pengetahuan ilmiah terdiri dari:
a. Teori
- Merupakan pengetahuan ilmiah yang meliputi klarifikasi mengenai suatu faktor tertentu dari sebuah disiplin keilmuan.
b. Hukum
- Pada hakikatnya merupakan pernyataan yang menyatakan hubungan antara dua variabel atau lebih dalam suatu kaitan alasannya yaitu akibat.
c. Prinsip
- Dapatdiartikan sebagai pernyataan yang berlaku secara umum bagi sekelompok gejala-gejala tertentu, yang bisa menjelaskan bencana yang terjadi, umpamanya saja aturan alasannya yaitu akibat sebuah gejala.
d. Postulat
- Merupakan perkiraan dasar yang kebenarannya kita terima tanpa dituntut pembuktiannya. Bila postulat dalam pengajuannya tidak memerlukan bukti wacana kebenarannya maka hal ini berlainan dengan perkiraan yang harus ditetapkan dalam sebuah argumentasi ilmiah. Asumsi harus merupakan pernyataan yang kebenarannya secara empiris sanggup diuji.
BAB III PENUTUP
Pengetahuan yaitu alat bagi insan untuk memahami apa yang ada di sekelilingnya, untuk menafsirkan gejala-gejala alam yang terjadi dan untuk mencari penyelesaian terhadap masalah-masalah kehidupan mereka. Cara memperoleh pengetahuan terus mengalami perkembangan dari masa ke masa.
Epistemologi merupakan salah satu cabang filsafat yang mempelajari cara mendapat ilmu pengetahuan yang benar. Yaitu melalui metode ilmiah dengan langkah-langkahnya yang terdiri dari perumusan masalah, perumusan kerangka berpikir dalam menyusun hipotesis, pengajuan hipotesis, pengujian hipotesis, dan penarikan kesimpulan. Jadi, tidak semua pengetahuan sanggup disebut ilmu.
DAFTAR PUSTAKA
Pidarta, Made. 2009. Landasan Kependidikan: Stimulus Ilmu Pendidikan Bercorak Indonesia. Jakarta: Rineka Cipta.
Surajiyo. 2010. Filsafat Ilmu & Perkembangannya di Indonesia. Jakarta: Bumi Aksara.
Suriasumantri, Jujun S. 2007. Filsafat Ilmu Sebuah Pengantar Populer. Jakarta: Pustaka Sinar Harapan.
Susanto, A. 2011. Filsafat Ilmu: Suatu Kajian dalam Dimensi Ontologis, Epistemologis, dan Aksiologis. Jakarta: Bumi Aksara.
Itulah makalah yang admin bagikan untuk kau semua. Semoga makalah tentang Filsafat Ilmu : Epistimologi Pengetahuan yang telah admin bagikan bermanfat untuk kau semua.
Selanjutnya baca makalah tentang Filsafat Ilmu : Aksiologi Pengetahuan
Makalah Filsafat Ilmu : Aksiologi Pengetahuan
Makalah Filsafat Ilmu : Aksiologi Pengetahuan -- Pengertian Aksiologi dan Contohnya, Contoh Makalah Aksiologi Pengetahuan, Filsafat Ilmu : Aksiologi Pengetahuan, Pembahasan Aksiologi Ilmu Pengetahuan, Pembahasan Materi Aksiologi Filsafat, Filsafat Ilmu Aksiologi Pengetahuan pdf.
Pada kesempatan ini admin akan menyebarkan pengetahuan yang terangkum dalam Makalah Filsafat Ilmu : Aksiologi Pengetahuan. Makalah ini merupakan lanjutan dari makalah sebelumnya yang berjudul Makalah Filsafat Ilmu : Epistimologi Pengetahuan. Langsung saja simak selengkapnya di bawah ini.
Pada kesempatan ini admin akan menyebarkan pengetahuan yang terangkum dalam Makalah Filsafat Ilmu : Aksiologi Pengetahuan. Makalah ini merupakan lanjutan dari makalah sebelumnya yang berjudul Makalah Filsafat Ilmu : Epistimologi Pengetahuan. Langsung saja simak selengkapnya di bawah ini.
I. PENDAHULUAN
Ilmu merupakan sesuatu yang paling penting bagi manusia, lantaran dengan ilmu semua keperluan dan kebutuhan insan bisa terpenuhi secara cepat dan mudah. Dan merupakan kenyataan yang tak sanggup dipungkiri bahwa peradaban insan sangat berhutang pada ilmu. Ilmu telah banyak mengubah wajah dunia ibarat hal memberantas penyakit, kelaparan, kemiskinan, dan banyak sekali wajah kehidupan yang sulit lainnya. Dengan kemajuan ilmu juga insan bisa mencicipi fasilitas lainnya ibarat transportasi, pemukiman, pendidikan, komunikasi, dan lain sebagainya. Singkatnya ilmu merupakan sarana untuk membantu insan dalam mencapai tujuan hidupnya.
Kemudian timbul pertanyaan, apakah ilmu selalu merupakan berkah dan penyelamat manusia? Dan memang sudah terbukti, dengan kemajuan ilmu pengetahuan, insan sanggup membuat banyak sekali bentuk teknologi. Misalnya, pembuatan bom yang pada awalnya untuk memudahkan kerja manusia, namun kemudian dipergunakan untuk hal-hal yang bersifat negatif yang menjadikan malapetaka bagi umat insan itu sendiri. Disinilah ilmu harus di letakkan proporsional dan memihak pada nilai- nilai kebaikan dan kemanusian. Sebab, kalau ilmu tidak berpihak pada nilai-nilai, maka yang terjadi ialah peristiwa dan malapetaka.
Setiap ilmu pengetahuan akan menghasilkan teknologi yang kemudian akan diterapkan pada masyarakat. Proses ilmu pengetahuan menjadi sebuah teknologi yang benar-benar sanggup dimanfaatkan oleh masyarakat tentu tidak terlepas dari si ilmuwannya. Seorang ilmuwan akan dihadapkan pada kepentingan-kepentingan langsung ataukah kepentingan masyarakat akan membawa pada duduk kasus etika keilmuan serta kasus bebas nilai. Untuk itulah tanggung jawab seorang ilmuwan haruslah “dipupuk” dan berada pada daerah yang tepat, tanggung jawab akademis, dan tanggung jawab moral.
Dalam kajian aksiologi ilmu membicarakan untuk apa dan untuk siapa. Tulisan ini membicarakan Definisi Aksiologi, Ilmu dan moral, dan Tanggung jawab sosial ilmuwan.
II. PEMBAHASAN
2.1 Definisi Aksiologi
Menurut bahasa Yunani, aksiologi berasal dari kata axios artinya nilai dan logos artinya teori atau ilmu. Menurut Kamus Bahasa Indonesia (1995:19) aksiologi ialah kegunaan ilmu pengetahuan bagi kehidupan manusia, kajian ihwal nilai-nilai khususnya etika. Menurut Suriasumantri (1987:234) aksiologi ialah teori nilai yang berkaitan dengan kegunaan dari pengetahuan yang di peroleh. Kaprikornus aksiologi ialah suatu teori ihwal nilai yang berkaitan dengan bagaimana suatu ilmu digunakan.
Dari definisi-definisi aksiologi di atas, terlihat dengan terang bahwa permasalahan utama mengenai nilai. Nilai yang dimaksud ialah sesuatu yang dimiliki insan untuk melaksanakan banyak sekali pertimbangan ihwal apa yang dinilai. Teori ihwal nilai yang dalam filsafat mengacu pada permasalahan etika dan estetika. Etika menilai perbuatan manusia, maka lebih sempurna kalau dikatakan bahwa objek formal etika ialah norma-norma kesusilaan manusia, dan sanggup dikatakan pula bahwa etika mempelajari tingkah laris insan ditinjau dari segi baik dan tidak baik di dalam suatu kondisi yang normative, yaitu suatu kondisi yang melibatkan norma-norma. Sedangkan estetika berkaitan dengan nilai ihwal pengalaman keindahan yang dimiliki oleh insan terhadap lingkungan dan fenomena di sekelilingnya.
2.2 Teori ihwal Nilai
a. Kebebasan Nilai dan Keterikatan Nilai
Perkembangan yang terjadi dalam pengetahuan ternyata melahirkan sebuah polemik gres lantaran kebebasan pengetahuan terhadap nilai atau yang bisa kita sebut sebagai netralitas pengetahuan (value free). Sebaliknya ada jenis pengetahuan yang didasarkan pada keterikatan nilai atau yang lebih dikenal sebagai value baound. Sekarang mana yang lebih unggul antara netralitas pengetahuan dan pengetahuan yang didasarkan pada keterikatan nilai?
Bagi ilmuwan yang menganut faham bebas nilai kemajuan perkembangan ilmu pengetahuan akan lebih cepat terjadi. Karena ketiadaan kendala dalam melaksanakan penelitian. Baik dalam menentukan objek penelitian, cara yang digunakan maupun penggunaan produk penelitian. Sedangkan bagi ilmuwan penganut faham nilai terikat, perkembangan pengetahuan akan terjadi sebaliknya. lantaran dibatasinya objek penelitian, cara, dan penggunaan oleh nilai.
Kendati demikian paham pengetahuan yang disandarkan pada teori bebas nilai ternyata melahirkan sebuah permasalahan baru. Dari yang tadinya membuat pengetahuan sebagai sarana membantu manusia, ternyata kemudian penemuannya tersebut justru menambah kasus bagi manusia. Meminjam istilah carl Gustav Jung “bukan lagi Goethe yang melahirkan Faust melainkan Faust-lah yang melahirkan Goethe”.
b. Hakikat Nilai
Berikut ialah beberapa rujukan dari hakikat nilai dilihat dari anggapan atau pendapatnya:
- Nilai berasal dari kehendak, Voluntarisme.
- Nilai berasal dari kesenangan, Hedonisme
- Nilai berasal dari kepentingan.
- Nilai berasal dari hal yang lebih disukai (preference).
- Nilai berasal dari kehendak rasio murni.
c. Kriteria Nilai
Standar pengujian nilai dipengaruhi aspek psikologis dan logis.
- Kaum hedonist menemukan standar nilai dalam kuantitas kesenangan yang dijabarkan oleh individu atau masyarakat.
- Kaum idealis mengakui sistem objektif norma rasional sebagai kriteria.
- Kaum naturalis menemukan ketahanan biologis sebagai tolok ukur.
d. Status Metafisik Nilai
- Subjektivisme ialah nilai semata-mata tergantung pengalaman manusia.
- Objektivisme logis ialah nilai merupakan hakikat logis atau subsistensi, bebas dari keberadaannya yang dikenal.
- Objektivisme metafisik ialah nilai merupakan sesuatu yang ideal bersifat integral, objektif, dan komponen aktif dari kenyataan metafisik. (mis: theisme).
e. Karakteristik Nilai
- Bersifat abstrak; merupakan kualitas
- Inheren pada objek
- Bipolaritas yaiatu baik/buruk, indah/jelek, benar/salah.
- Bersifat hirarkhis; Nilai kesenangan, nilai vital, nilai kerohanian, nilai kekudusan.
2.3 Ilmu
Ilmu ialah kumpulan dari pengetahuan yang diperoleh melalui aktivitas penelitian ilmiah yang hasilnya sanggup dipertanggungjawabkan secara keilmuan.
Ilmu merupakan keseluruhan bentuk upaya kemanusiaan untuk mengetahui sesuatu dengan memperhatikan objek (ontologi), cara (epistemologi), dan kegunaannnya (aksiologi). Berangkat dari tiga kerangka tersebut, dengan memanfaatkan kemampuan nalar untuk memahami fenomena alam semesta (keseluruhan ciptaan atau makhluk Allah) sebagai objek pemahaman yang pada akhirnya hasil pemahaman tersebut dipergunakan untuk menunjukkan nilai manfaat sebesar-besarnya bagi kemanusiaan.
Adapun kegunaan ilmu itu ialah sebagai berikut :
- Mencapai nilai kebenaran (ilmiah)
- Memahami aneka kejadian
- Meramalkan kejadian yang akan terjadi
- Menguasai alam untuk memanfaatkannya.
2.4 Kaitan Aksiologi dengan Filsafat Ilmu
Nilai itu bersifat objektif, tapi adakala bersifat subjektif. Dikatakan objektif kalau nilai-nilai tidak tergantung pada subjek atau kesadaran yang menilai. Tolak ukur suatu gagasan berada pada objeknya, bukan pada subjek yang melaksanakan penilaian. Kebenaran tidak tergantung pada kebenaran pada pendapat individu melainkan pada objektivitas fakta. Sebaliknya, nilai menjadi subjektif, apabila subjek berperan dalam memberi penilaian; kesadaran insan menjadi tolak ukur penilaian. Dengan demikian nilai subjektif selalu memperhatikan banyak sekali pandangan yang dimiliki nalar budi manusia, ibarat perasaan yang akan mengasah kepada suka atau tidak suka, bahagia atau tidak senang.
Bagaimana dengan objektivitas ilmu? Sudah menjadi ketentuan umum dan diterima oleh banyak sekali kalangan bahwa ilmu harus bersifat objektif. Salah satu faktor yang membedakan antara peryataan ilmiah dengan anggapan umum ialah terletak pada objektifitasnya. Seorang ilmuan harus melihat realitas empiris dengan mengesampingkan kesadaran yang bersifat idiologis, agama dan budaya. Seorang ilmuan haruslah bebas dalam menentukan topik penelitiannya, bebas melaksanakan eksperimen-eksperimen. Ketika seorang ilmuan bekerja beliau hanya tertuju kepada proses kerja ilmiah dan tujuannya biar penelitiannya be rhasil dengan baik. Nilai objektif hanya menjadi tujuan utamanya, beliau tidak mau terikat pada nilai subjektif
2.5 Ilmu dan Moral
Sejak dikala pertumbuhannya, ilmu sudah terkait dengan kasus moral. Ketika Copernicus (1473-1543) mengajukan teorinya ihwal kesemestaan alam dan menemukan bahwa “bumi yang berputar mengelilingi matahari“ dan bukan sebaliknya ibarat yang dinyatakan dalam pedoman agama maka timbulah interaksi antara ilmu dan moral (yang bersumber pada pedoman agama) yang berkonotasi metafisik. Secara metafisik ilmu ingin mempelajari alam sebagaimana adanya (netralitas ilmu), sedangkan di pihak lain terdapat impian biar ilmu mendasarkan kepada pernyataan-pernyataan (nilai-nilai) yang terdapat dalam ajaran-ajaran di luar bidang keilmuan (nilai moral), ibarat agama.
Sejak dalam tahap-tahap pertumbuhannya ilmu sudah dikaitkan dengan tujuan perang. Ilmu bukan saja digunakan untuk menguasai alam melainkan juga untuk memerangi sesama manusia. Berbagai macam senjata pembunuh berhasil dikembangkan dan banyak sekali teknik penyiksaan diciptakan. Ilmu bukan lagi merupakan sarana yang membantu insan mencapai tujuan hidupnya, namun juga membuat tujuan hidup itu sendiri (Jujun.S.Sumantri,1996).
Masalah normal tak bisa dilepaskan dengan tekad insan untuk menemukan kebenaran, lantaran untuk menemukan kebenaran dan terlebih – lebih lagi untuk mempertahankan kebenaran, diharapkan keberanian moral.
Menghadapi kenyataan ibarat ini, ilmuwan era 20 dilarang tinggal diam, si pemilik ilmu ini harus memiliki sikap. Ilmuwan harus bisa menilai antara yang baik dan yang buruk, yang pada hakikatnya mengharuskan seorang ilmuwan memiliki landasan moral yang kuat. Tanpa landasan moral maka ilmuwan gampang sekali tergelincir dalam melaksanakan prostitusi intelektual.
2.6 Tanggung Jawab Sosial Ilmuwan
Ilmu merupakan hasil karya perseorangan yang dikomunikasikan dan dikaji secara terbuka oleh masyarakat. Penciptaan ilmu bersifat individual namun komunikasi dan penggunaan ilmu ialah bersifat sosial. Seorang Ilmuwan memiliki tanggung jawab sosial, lantaran fungsinya selaku ilmuwan tidak berhenti pada penelaahan dan keilmuwan secara individual namun juga ikut bertanggung jawab biar produk keilmuwan hingga dan sanggup dimanfaatkan oleh masyarakat demi kemaslahatan bersama.
Di bidang etika tanggung jawab seorang ilmuan ialah bersifat objektif, terbuka, mendapatkan kritik, mendapatkan pendapat orang lain, kukuh dalam pendirian yang dianggap benar dan berani mengakui kasalahan. Ilmu menghasilkan teknologi yang akan diterapkan pada masyarakat. Teknologi dalam penerapannya sanggup menjadi berkah dan penyelamat bagi manusia, tetapi juga bisa menjadi peristiwa bagi manusia. Disinilah pemanfataan pengetahuan dan teknologi diperhatikan sebaik-baiknya.
Ilmu pengetahuan dan teknologi menyangkut tanggung jawab terhadap hal-hal yang akan dan telah diakibatkan ilmu pengetahuan dan teknologi di masa-masa lalu, kini maupun apa risikonya bagi masa depan berdasar keputusan bebas insan dalam kegiatannya. Penemuan-penemuan gres dalam ilmu pengetahuan dan teknologi terbukti ada yang sanggup mengubah sesuatu hukum baik alam maupun manusia. Hal ini tentu saja menuntut tanggung jawab untuk selalu menjaga biar apa yang diwujudkannya dalam perubahan tersebut akan merupakan perubahan yang terbaik bagi perkembangan eksistensi insan secara utuh.
Berkaitan dengan kasus moral dalam menghadapi ekses ilmu dan teknologi yang bersifat merusak, ilmuwan terbagi dalam dua golongan pendapat (Jujun.S.Sumantri,1996), sebagai berikut :
a. Golongan I
Golongan pertama menginginkan bahwa ilmu harus bersifat netral terhadap nilai-nilai baik itu secara ontologis maupun aksiologis.
b. Golongan II
Ilmuwan golongan kedua beropini bahwa netralitas ilmu terhadap nilai-nilai hanyalah terbatas pada metafisik keilmuwan, sedangkan dalam penggunaannya, bahkan pemilihan objek penelitian, maka aktivitas keilmuwan harus berlandaskan asas-asas moral.
Ilmuwan memiliki kewajiban sosial untuk memberikan kepada masyarakat dalam bahasa yang gampang dicerna. Tanggung jawab sosial seorang ilmuwan ialah menunjukkan perspektif yang benar, untung dan rugi, baik dan buruknya, sehingga penyelesaian yang objektif sanggup dimungkinkan. Dengan kemampuan pengetahuannya seorang ilmuwan harus sanggup mensugesti opini masyarakat terhadap masalah-masalah yang seyogyanya mereka sadari.
Dalam hal ini, berbeda dengan menghadapi masyarakat, ilmuwan yang elitis dan esoteric, beliau harus berbicara dengan bahasa yang sanggup dicerna oleh orang awam. Untuk itu ilmuwan bukan saja mengandalkan pengetahuannya dan daya analisisnya namun juga integritas kepribadiannya.
Seorang ilmuwan pada hakikatnya ialah insan yang biasa berpikir dengan teratur dan teliti. Seorang ilmuwan tidak menolak dan mendapatkan sesuatu secara begitu saja tanpa pemikiran yang cermat. Disinilah kelebihan seorang ilmuwan dibandingkan dengan cara berpikir orang awam. Kelebihan seorang ilmuwan dalam berpikir secara teratur dan cermat. Inilah yang mengakibatkan beliau memiliki tanggung jawab sosial. Dia mesti berbicara kepada masyarakat sekiranya ia mengetahui bahwa berpikir mereka keliru, dan apa yang membuat mereka keliru, dan yang lebih penting lagi harga apa yang harus dibayar untuk kekeliruan itu.
Seorang ilmuwan secara moral tidak akan membiarkan hasil penelitian atau penemuannya dipergunakan untuk menindas bangsa lain meskipun yang mempergunakan bangsanya sendiri. Sejarah telah mencatat para ilmuwan bangun dan bersikap terhadap politik pemerintahnya yang berdasarkan anggapan mereka melanggar asas-asas kemanusiaan. Pengetahuan merupakan kekuasaan, kekuasaan yang sanggup digunakan untuk kemasalahatan insan atau sebaliknya sanggup pula disalah gunakan. Untuk itulah tanggung jawab ilmuwan haruslah “dipupuk” dan berada pada daerah yang tepat, tanggung jawab akademis dan tanggung jawab moral.
III. PENUTUP
Dari pemaparan di atas, maka sanggup disimpulkan bahwa aksiologi ialah suatu teori ihwal nilai yang berkaitan dengan bagaimana suatu ilmu digunakan.
Ilmu menghasilkan teknologi yang akan diterapkan pada masyarakat. Teknologi dalam penerapannya sanggup menjadi berkah dan penyelamat bagi manusia, tetapi juga bisa menjadi peristiwa bagi manusia. Disinilah pemanfaatan pengetahuan dan teknologi harus diperhatikan sebaik – baiknya. Dalam filsafat penerapan teknologi meninjaunya dari segi aksiologi keilmuan.Seorang ilmuwan memiliki tanggung jawab biar produk keilmuwan hingga dan sanggup dimanfaatkan dengan baik oleh masyarakat.
DAFTAR PUSTAKA
Pidarta, Made. 2009. Landasan Kependidikan: Stimulus Ilmu Pendidikan Bercorak Indonesia. Jakarta: Rineka Cipta.
Suriasumantri, Jujun S. 2007. Filsafat Ilmu Sebuah Pengantar Populer. Jakarta: Pustaka Sinar Harapan.
Itulah Makalah Filsafat Ilmu : Aksiologi Pengetahuan. Bagi yang belum membaca makalah sebelumnya untuk potongan awal, silahkan baca Makalah Filsafat Ilmu : Ontologi Pengetahuan.
Langganan:
Postingan (Atom)



